#5. Startups, Bagaimana Mengubah Visi menjadi Fakta?

Tulisan berikut ini merupakan sambungan langsung dari artikel no 4.

Visi Startups

Mengubah visi usaha menjadi fakta bisnis bukanlah sulap. Ada kerja keras di baliknya.

Mengubah visi usaha menjadi fakta bisnis bukanlah sulap bukanlah sihir. Ada serangkaian proses yaitu menguji dugaan-dugaan untuk menemukan validitasnya.

Sebuah bisnis biasanya berangkat dari  visi pendiri tentang produk atau layanan baru. Produk/layanan baru itu diyakini akan memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan pelanggan. Sebut saja, visi tentang obat jerawat yang dapat menghilangkan jerawat dalam waktu sekejap. Atau, visi tentang sebuah aplikasi canggih yang membuat mobil dapat berjalan tanpa supir.

Banyak visi startups tinggal sebagai dokumen dan ide gemilang tapi gagal menjadi kenyataan. Mengapa?

Visi  kawan-kawan arsitek, (baca kembali artikel ke-4) tentang  rumah hunian sejuk dengan teknologi Radiant Cooling pengganti AC, sampai sejauh ini masih berisi dugaan dugaan. Mereka menduga bahwa produk ini akan memecahkan masalah banyak orang. Yaitu dalam hal hemat energi dan pengurangan pemanasan global. Logikanya demikian: produk baru itu akan menjawab masalah,  maka pastilah akan diterima pasar. Belum tentu. Apa yang dimaksud pasar? Siapa pelanggan potensial yang akan menerima? Apakah mereka mempunyai preferensi tambahan seperti kepraktisan, after sales service, kemasan? Bagaiman delivery produk baru itu agar sampai kepada pelanggan?

Startups yang membangun model bisnis hanya berdasarkan visi dan dugaan-dugaan, sangat beresiko gagal di tengah jalan. Entah karena kehabisan waktu dan biaya yang tidak perlu. Entah karena pelanggan/pasar mempunyai preferensi yang berbeda. Bahkan mungkin karena perkembangan teknologi yang terjadi saat launcing telah lebih maju daripada saat prototipe dibuat.

Banyak startup memulai usaha mereka seolah-olah mereka adalah perusahaan besar yang sudah matang. Mereka mengawali usahanya dengan urusan organisasi. Mereka berpikir seolah-olah semua masalah akan selesai dengan sebuah struktur usaha yang baku, rencana kerja yang statis dengan jadwal eksekusi yang ketat.

Tak ada yang pasti dalam kerja sebuah startup. Kecuali bahwa rekening di bank akan terus berkurang tanpa pemasukan. Karena itu rencana kerja yang statis disertai jadwal eksekusi yang ketat bukan cara  yang tepat dalam awal pembangunan startups.

Masalah utama yang harus diselesaikan sedari awal adalah memastikan bahwa visi dan dugaan-dugaan pendiri dapat diubah menjadi fakta-fakta.

Menguji Dugaan
Kembali ke ide rumah sejuk tanpa AC, para arsitek penggagas  sadar; harus didapat kepastian bahwa pelanggan potensial akan menerima produk itu sedari awal. Dan bila pelanggan tidak atau belum menerima, mereka perlu tahu alasannya sehingga dapat melakukan perubahan-perubahaan atas produk mereka. Bagaimana caranya?

Jadi inilah beberapa rencana para penggagas rumah sejuk tanpa AC untuk mengubah dugaan menjadi fakta:

1. Setelah prototype rumah jadi, mereka akan membawa contoh itu ke berbagai forum yang mepresentasikan pelanggan potensial. Mereka dapat berarti para developer, pemilik lahan, kontraktor atau konsumen/pembeli rumah. Reaksi atau kritik dari forum akan menjadi catatan penting untuk melakukan perubahan/pengembangan. Pengembangan produk dapat berarti perubahan menyeluruh atau terbatas.

2. Selain itu dibutuhkan waktu untuk menilai daya tahan serta persoalan teknis yang muncul dengan melakukan monitoring atas produk tersebut.

3. Perubahan-perubahan dilakukan sesuai dengan catatan/kritik. Hasil dari perubahan itu disampaikan lagi kepada forum. Demikianlah serangkain percobaan dilakukan dan diulang untuk mendapat kepastian bahwa visi pendiri dapat diubah menjadi fakta.

Rangkain percobaan itu sendiri baru menjawab salah satu persoalan, yaitu memastikan produk sesuai harapan dan dapat diterima oleh konsumen. Ada tahap dan rencana lain yang akan dilakukan seperti mengetahui ukuran pasar, dan target pasar. Menentukan saluran distribusi agar produk dapat sampai kepada pelanggan. Dan sebagainya.

Contoh startups rumah sejuk tanpa AC adalah contoh tentang produk fisik, sesuatu yang bentuknya kelihatan. Apakah produk startupsmu? Bagaimana dengan produk/jasa online? Dalam tulisan-tulisan berikut semoga saya dapat memberi contoh selain produk fisik. Yaitu contoh tahapan paling awal dalam mengubah visi menjadi fakta.

Inti tulisan artikel 5 ini adalah icip-icip ilmu yang disebut customer development. Sebuah tahap awal sebelum sebuah strategi marketing dapat dijalankan. Kalau tertarik, Anda perlu melakukan pendalaman sendiri untuk mengetahui tahapan customer development. Atau kita berdiskusi dalam forum berbeda.

Pesan tulisan ini adalah: mengetahui apakah produk/jasa Anda akan diterima pasar harus dilakukan sedari awal. Lakukan perubahan-perubahaan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dalam tahap ini, perubahan dapat setiap hari dilakukan tergantung jenis produk/layanan. Perubahan dapat hanya perubahan fitur atau bahkan lebih dari itu. Perubahan esensi.

Maspieto CPT

#4. Ide Bisnis untuk Startup: “Profit Seeking Entity atau Problem Solver”?

“Kami ingin membawa Suvarnabhumi Airport Bangkok ke dalam rumah-rumah kami”

Setengah hari tadi (20/07/2015) saya berdiskusi intensif dengan beberapa arsitek tentang startup mereka, di Citos, Cilandak. Tantangan yang mau dijawab dengan startup mereka patut mendapat acungan jempol.

Courtesy of buzzquotes.com

Bangkok Airport. Courtesy of buzzquotes.com

Saya ingin mensharekan diskusi ini karena dua alasan. Alasan pertama, meski masih sangat prematur gagasan awal mereka patut dibawa ke ruang publik untuk mendapatkan tambahan kritik/masukan, tambahan kawan, tambahan resource dan mungkin tambahan komunitas yang mempunyai minat yang sama.

Banyak orang takut menyebarkan ide businessnya ke ruang publik. Kekawatirannya adalah ini: apakah menyebarkan ide business tidak merugikan, karena bisa saja ide itu diambil oleh kompetitor? Dan sebelum kita sanggup memasuki pasar, bisa-bisa pesaing kita sudah melakukan penetrasi lebih dahulu.

Alasan kedua, topik diskusi kami hari ini cukup bernilai dalam membantu sesama startup yaitu tentang market/pasar, validasi customer dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tajam dari calon investor atau venture capitalist tentang pasar yang dimasuki startups adalah pertanyaan inti dan utama yang harus dijawab pemilik startups dalam proses pitching. Kegagalan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, berarti menutup kemungkinan mendapat sejumlah dana untuk melakukan ekspansi usaha.

Radiant Cooling
Sekarang saya mulai dengan alasan pertama: berbagi Ide bisnis. Anda yang pernah pergi ke Bangkok melalui Suvarnabhumi Airport mungkin tidak menyadari hal berikut. Terminal Airport seluas hampir 150.000m2 dengan ketinggian langit-langit mencapai 13,5 m, terasa sejuk walau tidak menggunakan AC. Suhu di dalam ruang terasa sejuk karena suhu udara dijaga berada di kisaran 22-24C, dengan kelembaban 44-55% RH (relative humidity).

Teknologi yang dipakai sebagai ganti AC konvensional disebut Radiant Cooling. Penjelasan detail dan teknis tentang bagaimana kerja teknologi ini tidak dapat saya berikan. Ada ahlinya yang dapat menjelaskannya leih detail. Anda juga dapat googling bila ingin tahu lebih banyak. Silakan para pembaca berbagi, kalau tahu tentang teknologi ini.

Hanya prinsip kerjanya saja mampu saya sharekan. Proses pendinginan di Airport ini dilakukan terhadap lantai terminal pada suhu 19C. Proses pendinginan di Airport dilakukan melalui pipa-pipa air yang ditanam di bawah lantai. Air didinginkan dengan beberapa chiller raksasa, yang kemudian dialirkan ke dalam pipa-pipa di bawah lantai. Itu sebabnya, kadang teknologi ini disebut sebagai radiant floor cooling. Sistem ini berbeda dengan AC konvensional yang melakukan pendinginan ruang dengan menghembuskan udara yang didinginkan ke dalam ruangan. Dengan teknologi ini, secara teoritis energi listrik dapat dihemat sampai 60%.

Sejauh ini gedung yang telah menerapkan teknologi ini di Indonesia hanya 2 yaitu Kedutaaan besar Austria di Jakarta dan ATMI di Cikarang Jawa Barat. Memang teknologi radiant cooling sejauh ini hanya diterapkan pada high risk building seperti mall, perkantoran, apartemen dan bandara. Belum pernah saya dapati penggunaan teknologi ini pada rumah-rumah tinggal. Mungkin karena kendala biaya yang tinggi.

Tantangan yang ada di hadapan kawan-kawan diskusi saya hari ini tentu sangat menarik. Apakah mungkin menggunakan teknologi radiant cooling (yang ramah lingkungan dan terbukti efisien dalam pemanfaat energy listrik) ke dalam rumah-rumah sederhana, dengan luas 36m2 atau 45m2? Para arsitek dan tim teknis ini cukup optimis bahwa tantangan ini dapat dijawab dan diselesaikan. Mereka sekarang akan memasuki tahap uji coba, untuk memastikan bahwa desain yang mereka buat dapat bekerja.

Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli

Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli

Beyond Profit
Setelah sekilas tentang teknologi radiant cooling, sekarang, saya ajak pembaca kembali mendiskusikan alasan pertama yang saya sampaikan di atas. Apakah sharing ide bisnis yang saya lakukan tidak membahayakan prospek bisnis kawan-kawan Arsitek dan sponsor mereka? Tentu saya perlu lampu hijau dari mereka untuk sharing ini. Menurut saya, mensharingkan atau tidak mensharingkan ide bisnis itu perkara kepercayaan, perkara pilihan akan prinsip hidup/bisnis.

Saya percaya bisnis masa kini melangkah “beyond profit“. Bisnis visioner melampaui paradigma berpikir pedagang mobil bekas: mencari mobil bekas dengan harga serendah-rendahnya, memolesnya, dan kemudian menjualnya dengan harga setinggi-tingginya. Bisnis visioner, mencoba mencari solusi atas persoalan manusia, lingkungan dan keberlangsungan planet kita ini. Not (only) compete to be the best IN the world, but collaborate to be the best FOR the world.

Keberhasilan tidak lagi sekedar diukur dari revenue, profit dan ROI, namun dan terutama values, impact dan culture. Apple tidak punya CSR karena mereka percaya berbuat baik tidak harus menunggu profit, namun didasari oleh manifestasi nilai-nilai. Google dan Zappos mampu menghimpun talenta-talenta paling relevan bukan berdasarkan tawaran gaji tinggi, namun karena visi dan ajakan untuk turut mengubah dunia.

Dalam konteks beyond profit perusahaan menjelma dari profit seeker menjadi problem solving organization. Antar organisasi bukan lagi urusan kompetisi, namun kolaborasi dan kerjasama untuk misi bersama yang lebih universal. Perhatikan saja misalnya BCorporation yang berupaya menjadikan business sebagai solusi problem sosial.

Saya percaya, dengan mensharingkan ide besar yang sedang ditekuni oleh beberapa kawan arsitek, saya justru sedang membantu membukakan tangan untuk sebuah kolaborasi cerdas dan luas untuk membangun rumah kita yang peduli pada lingkungan hijau dan menjawab masalah pemanasan global. Ya, ini memang sebuah cita-cita besar yang perlu banyak oarng untuk terlibat. Siapa tahu tulisan saya ini menjadi pemacu lahirnya komunitas-komunitas lintas ilmu yang concern pada eco house design.

Lagi pula, masalah utama startups sesungguhnya bukan pada ada tidaknya ide. Ide-ide menarik dan gila bisa kita dapatkan di banyak ruang diskusi. Para komentator bisa punya lebih banyak ide daripada pelatih sepakbola. Apa istimewanya ide GoJek atau BerryKitchen? Banyak orang bisa membuat ide yang lebih gila dari itu. Persoalannya ada pada level eksekusi. Apakah startups mempunyai kompetensi inti (core competence) untuk melakukan eksekusi? Kawan-kawan saya dan sponsor mereka agaknya punya kapasitas memadai untuk mengolah gagasan mereka itu.

Bila demikian halnya, persoalan berlanjut ke alasan/pertanyaan ke-2? Bagaimana dengan pasar? Siapakah customernya? Apakah mereka pasti akan menerima produk baru ini? Bagaimana mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan?

Saya akan mencoba membahasnya dalam tulisan berikutnya,

Maspieto CTP