#9 Mengapa 90% Startups Gagal di Tengah Jalan?

Di bulan Januari 2013, komunitas startups di Amerika Serikat menerima berita suram. Polisi mendapati Jody Sherman  meninggal bunuh diri di dalam mobilnya, sekitar 35 km di luar kota Las Vegas tempat ia dan Kerry istrinya tinggal. Jody Sherman adalah pendiri sekaligus CEO dari Ecomom, sebuah startups yang bergerak di bidang makanan sehat untuk bayi. Jody yang mempunyai keahlian dalam bidang IT adalah pribadi yang menarik, menyenangkan, murah hati dan mempunyai passion yang kuat dengan dunianya.

Jody Sherman, pendiri Ecomom, buduh diri pada Januari 2013. Startupnya ditutup 2 minggu kemudian.  Credit foto.

Jody Sherman, pendiri Ecomom, buduh diri pada Januari 2013. Startupnya ditutup 2 minggu kemudian. Credit foto.

Di awal pertumbuhannya Ecomom mampu mengumpulkan US$ 2 juta dari para investor di California dan  US $4 Juta dari investor dan VegasTechFund di Las Vegas  sebagai modal untuk memulai usahanya. Jumlah itu setara dengan Rp 78 milyar  cukup untuk mengawali usahanya.

Kelemahan Jody adalah ketidak mampuannya dalam membuat keputusan di bidang keuangan baik dalam kehidupan pribadi maupun usaha. Jody sangat royal pada dirinya, istrinya dan karyawan-karyawannya. Para karyawan mendapatkan gaji yang sangat tinggi. Ia membelanjakan US $75.000 untuk membeli Airstream Trailer yang dipakainya keliling negara bagian untuk membagikan makanan bagi anak-anak yang kelaparan.

Puncak kegagalannya terjadi ketika ia menjual barang di Ecomom dengan harga discount. Jody tidak mempunyai kemampuan membaca laporan keuangan dan tidak mengerti perbedaan margin dan keuntungan. Situasinya lebih dari buruk, karena semakin ia banyak menjual justru perusahaan akan semakin rugi. Laporan investigasi yang lengkap tentang kegagalan Jody Sherman dalam mengelola Ecomom dapat dibaca selengkapnya di sini.

Jody Sherman barangkali contoh yang ekstrem, terlalu ekstrem, tentang seorang founder startups. Dan semoga cukup satu contoh ini saja, ketika sebuah kegagalan diakhiri dengan bunuh diri.

Tetapi, berapa banyakkah sebenarnya startups yang mengalami kegagalan dan mati sebelum dia berkembang? Saya perlu mengatakan fakta keras ini: konon 9 dari 10 startups akan gagal. Startups yang sedang/akan kamu geluti sekarang mungkin akan gagal juga. Mungkin saja, startupmu belum gagal, tetapi belum berhasil. Atau diambang kegagalan? Sebuah dilema yang harus dihadapi  oleh setiap startups.

Dilema itu juga yang mungkin dihadapi oleh Damar Juniarto, pendiri AlineaTV, ketika pada 2 Agustus 2015  menulis artikel ini di blog pribadinya “2 Tahun AlineaTV: Terpaksa Mati atau Mempertahankan Mimpi?”

Dua puluh alasan utama
Saya tidak tahu persis, mengapa dilema seperti itu dihadapi AlineaTV. Tetapi saya yakin setiap situasi yang disharingkan selalu mengandung pelajaran berharga. Di tahun 2014, CB Insight merilis hasil penelitian post-mortem terhadap 101 startups yang gagal. Pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian itu adalah: apakah sebab utama yang membuat sebuah startups gagal. Penelitian postmortem adalah penelitian yang dilakukan terhadap startups yang telah mati.

Hasil penelitian itu memperlihatkan bahwa ada 20 alasan utama yang menyebabkan sebuah startup gagal. Yang dihadapi oleh Ecomom, yakni besar pasak daripada tiang, menduduki alasan kedua saja dan dihadapi oleh 29% startups. Kelemahan dalam mengambil keputusan keuangan yang cerdas, pengeluaran yang bodoh adalah penyebab utamanya. Sedangkan ketidakmampuan dalam menyusun, atau setidaknya membaca laporan keuangan dapat di atasi sedari awal dengan melibatkan orang yang ahli dalam bidang keuangan.

why-startups-fail-top-reasons1 cbinsightsdotcom

Penyebab kegagalan yang paling banyak dihadapi oleh startup adalah masalah pasar. Kecilnya revenue menjadi indikasi kuat bahwa pasar tidak menerima produk atau jasa startups meskipun semua strategi marketing sudah dilakukan.

Tetang sebab pertama kegagalan ini ada beberapa hal yang mungkin terjadi. Pertama, Pasar memang tidak membutuhkan produk atau layanan startups. Sehebat apapun misi yang diusung oleh sebuah startups jawaban pasar cukup jelas: pasar tidak butuh.

Kemungkinan kedua adalah: Startups menyasar pasar yang berbeda dari desain produk atau sebaliknya. Ini seperti sebuah perusahaan mobil yang mendesai mobil angkutan pedesaan dan menawarkannya ke masyarakat perkotaan. Siapa mau mbeli?

Atau mungkin seperti membuat majalah untuk remaja tetapi gaya bahasa dan isinya bak jurnal ilmiah. Siapa mau membaca?

Banyak startups menghadapi masalah kegagalan pasar, karena sedari awal mereka tidak fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Siapa pasar mereka? Dimana mereka berada? Dengan cara apa mereka mendapatkan produk yang mereka tawarkan (channel)? Apa preferensi mereka? Apakah mereka memerlukan produk Anda? Seberapa banyak? Fitur-fitur apa yang mereka inginkan?

Misi dan Uang, mana yang lebih penting?
Banyak orang mengira bahwa tujuan dari sebuah bisnis adalah mendapatkan untung. Prinsip itu mungkin tepat untuk seorang pedagang atau saudagar. Tetapi kalau kamu mau membangun sebuah usaha yang dapat bertahan lama, melewati usia yang panjang, usaha itu harus dapat menarik banyak orang untuk terlibat, rekan, investor, karyawan, kontributor, pelanggan. Dan untuk dapat mengikat sebanyak-banyaknya orang, usaha itu haruslah mempunyai misi dan bertujuan mulia, beyond profit,  untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Perhatikanlah ada begitu banyak founder, CEO yang berhasil tidak hanya dalam menjalankan usahanya, tetapi juga memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat dan dunia. Apakah uang tidak penting? Bagi sebuah perusahaan/startups bermisi mulia, uang sangat penting. Ia ibarat oksigen, O2, yang diperlukan agar perusahaan dapat hidup. Tanpa O2, manusia mati. Tanpa uang perusahaan bangkrut. Tetapi tujuan hidup manusia bukanlah mencari oksigen, bukan?

Begitulah sebuah startups dan perusahaan masa kini berada, ada tujuan ada misi yang hendak dicapai. Tetapi oksigen dan kebutuhan hidup lainnya harus dicukupi secara seimbang. Dengan kata lain selain sebuah misi yang luhur, founder atau CEO sebuah startups harus memikirkan bagaimana pasar dapat menerima produk/layanan dan memberi kontribusi finansial yang berguna bagi keberlanjutan usaha.

Selain misi yang mulia, startups yang akan sukses harus cukup rendah hati mempelajari pasar dan pelanggan mereka, menyesuaikan diri dan menjawab kebutuhan pelanggan. Pada gilirannya, pelanggan akan memberikan kontribusi finansial. Dan itu semua dilakukana tanpa harus mengorbankan misi luhurnya.

Kamu hanya perlu sedikit cerdas untuk menerjemahkan prinsip ini: “masuk lewat pintu mereka, dan keluar lewat pintu yang kamu kehendaki” agar kontribusi finansial dan misi mulia dapat berjalan seiring sejalan. “Masuk lewat pintu mereka” berarti, produk dan jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan.  “Keluar dari pintu kita” artinya misi dan tujuan mulia perusahaan, lewat jalan yang agak berliku dapat tercapai.  Ini adalah sebuah prinsip pedagogis yang  bermanfaat untuk bisnis.

Maspieto – CTP.

#8. Dicari: Relawan Kreatif untuk Industri Kreatif

Industri Kreatif, yakni industri yang berbasis pada seni, kultural, dan desain sangatlah menjanjikan. Menyumbangkan lebih dari 7% dari PDB di tahun 2014, dengan nilai pasar setara Rp 700 trilyun, Triawan Munaf, ketua Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bahkan optimis bahwa dalam tahun ini nilai pasar  industri kreatif dapat tembus mencapai Rp 900 trilyun. Dalam krisis ekonomi yang tengah melanda dunia, termasuk Indonesia, idustri kreatif dapat menjadi salah satu solusi melewati masa krisis ini. Bagaimana caranya?

Komunitas Relawan Kreatif

Komunitas Relawan Kreatif

Dua kisah berikut ini barangkali dapat jadi inspirasi bagi tumbuhnya: relawan internet kreatif.

Dua Cerita
Beberapa minggu lalu saya mendapat dua cerita dari teman yang menggugah hati. Cerita pertama tentang seorang pelukis senior. Bisa dibilang maestro, dan sudah dikenal di dalam dan di luar negeri. Sedangkan, cerita ke-2 tentang seorang pencipta mainan edukasi.

Ini cerita pertama tentang pelukis senior. Sang maestro lukisan, bukannya orang yang berkekurangan. Lukisannya sudah dikenal di manca negara. Karyanya menjadi penghias gedung ternama dan di banyak galeri musium. Sampai sekarang pun ia masih terus berkarya dan mendidik. Masih terdapat satu cita-cita yang ingin diwujudkan, memberikan sumbangan berkelanjutan bagi kegiatan sosial di negeri ini. Misalnya, karya kesehatan, pembangunan rumah layak, modal usaha dan sebagainya. Dengan cara apa? Salah satu idenya adalah dengan menjual karya lukisnya dan hasilnya disumbangkan bagi tujuan-tujuan sosial.

Cerita kedua, tentang seorang pengrajin mainan anak, yang punya idealisme tinggi. Menurutnya, salah satu yang hilang dalam dunia pendidikan dasar dan menengah adalah pengenalan akan ilmu rekayasa. Maka diciptakanlah puluhan mainan, yang disusun untuk berbagai tingkat pendidikan. Tujuannya agar murid diperkenalkan pada ilmu rekayasa (engineering). Aneka prototype mainannya sudah siap di workshopnya yang sederhana.

KOMUNITAS RELAWAN KREATIF: Sebuah angan
Saya yakin masih ada banyak kisah-kisah sejenis yang lebih seru. Kisah tentang orang berhati emas yang ingin menyumbangkan keahlian dan ketrampilannya bagi dunia yang lebih baik. Persoalannya, orang-orang berhati emas itu tak begitu mengenal dunia internet, yang menjadi basis pertumbuhan industri kreatif. Dan akses terhadap komunitas-komunitas kreatif juga tak mereka dapat. Kalau toh ada, mereka tak punya ketrampilan dan biaya untuk memanfaatkan pasar online.

Komunitas Relawan Kreatif, Mungkinkah?

Komunitas Relawan Kreatif, Mungkinkah?

Mendapat cerita itu, terbayang dalam angan-angan saya begini. Seandainya saja ada beberapa insan kreatif di jagad desain visual, web desain, animasi, internet marketing, dan sebagainya yang mempunyai hati emas, dan mau membangun komunitas relawan industri kreatif. Alangkah makin dahsyatnya ekonomi kreatif kita.

Komunitas relawan kreatif yang saya bayangkan ini, akan bergerak di daerahnya masing-masing. Mereka mencari dan menemukan kekayaan-kekayaan kultural, seni di wilayah yang belum terjamah insan kreatif. Lalu hasil temuannya diberi sentuhan marketing, disharekan dalam jejaring dan kepada dunia. Alangkah dahsyatnya sumbangan relawan ini bagi bangsanya kalau itu bisa diwujudkan.

Momentum untuk Memberi
Angan-angan itu tinggalah anggan-anggan kalau tidak kita mulai. Saya ingin mulai, dengan mengajak siapa saja yang tergerak dan mempunyai ketrampilan di seputar desain dan internet untuk mulai membangun komunitas yang marilah kita sebut sebagai Komunitas Relawan Kreatif.  Inilah momentum yang tepat, ketika krisis datang, kita bergandengan tangan saling mendukung lewat apa yang kita bisa.

Momentum untuk memberi Courtecy carletan.ca

Momentum untuk memberi Courtecy carletan.ca

Tujuan Komunitas Relawan Kreatif  adalah menjadi jembatan antara pelaku kreatif yang belum kenal internet dengan pasar yang tercipta karena internet. Mereka ini disebut relawan karena tidak bekerja berdasarkan kontrak sebagai karyawan, tetapi dari kesediaan untuk berbagi.

Komunitas ini akan bekerja untuk orang-orang seperti maestro lukisan itu dan pencipta mainan edukasi. Dan banyak lagi orang baik seperti mereka, yang ada diberbagai tempat. Komunitas akan membantu dengan ketrampilan internetnya mulai dari memasarkan sampai mencari dana untuk kegiatan komunitas.

Saya mau mengulurkan ajakan ini dari tempat saya mengabdi, karena tempat ini mungkin dapat ikut memberi sumbangan berupa jejaring industri, tempat ngumpul dan internet.

Tempat saya mengabdikan diri (Techno Park di Cikarang, Jawa Barat) mempunyai visi yang mirip. Membangun wirausaha-wirausaha kreatif Indonesia. Cikarang Techno Park tidak mendapat dana dari APBN atau APBD tetapi dari inisiatif para pendiri, akademisi dan perusahaan di Cikarang. Jadi untuk mewujudkan visi mulia ini pun dana dicari melalui berbagai cara.

Lepas dari itu, dengan sedikit keleluasaan yang ada, mungkin saya dapat memberi sumbangan bagi Komunitas Relawan Kreatif ini, dengan menyediakan tempat, berbagi informasi dan jaringan. Dan sekali-sekali menyiapkan teh atau kopi. 🙂

Ayo, siapa yang tertarik dengan ide ini? Kamukah relawan kreatif berhati emas?  Punya ketrampilan kreatif yang mau disumbangkan? Kalau kamu tertarik, silakan kontak saya di email: maspieto[at]gmail.com. atau twitter @maspieto. Mari kita mulai. Semoga ajakan ini bersambut.

Maspieto CTP

#7. Risiko Usaha, Pelajari Ini Sebelum Melangkah

Kita semua sering mendengar ungkapan yang mirip seperti  ini, “wirausahawan  adalah orang yang suka mencari risiko. Mereka seperti pendaki yang ketagihan mencari puncak-puncak gunung untuk ditaklukan”. Beberapa buku motivasi bisnis menulis topik ini. Contoh konkret dibeberkan, wirausaha sukses kerap digambarkan bagai superman yang berani menerima risiko dan mampu menghadapi 1001 tantangan.

Semua pilihan ada risikonya. Karyawan, pengusaha, wirausaha. Sama saja. Credit foto: Courtesy of epsos.de

Banyak  seminar bisnis memperkuat kesan itu. Dengan nada yang sangat persuasif, motivator menghipnotis  para peserta, seolah-olah rumus bisnis yang ditunjukkan akan memudahkan usahanya. Bisnisku ini gampang. Trik dan teknik diajarkan.

Selesai membaca buku atau pulang dari seminar, peserta seminar semakin yakin bahwa ide bisnisnya akan terlaksana semudah ia membayangkannya. Dan uang masuk akan datang lebih banyak daripada pengeluarannya.

Saya tahu hal itu tidak benar. Sebelum atau setelah membaca buku dan ikut seminar motivasi, hidup yang kita jalani tetap sama. Kenyataan hidup tidak ada yang berubah. Risiko kehidupan selalu ada. Entah Anda memilih menjadi karyawan atau menjadi wirausaha, risiko selalu mengintai. Kita sering mendengar hukum bisnis ini, “high gain, high risk”. Hasil yang besar selalu beriringan dengan risiko yang besar. Sebagian mungkin benar. Tapi banyak juga “low gain” berisiko besar.  Petugas pemadam kebakaran berisiko kehilangan nyawa lebih besar meski gajinya mungkin sama dengan pegawai negeri umumnya.

Risiko ada dimana mana. Juga kalau Anda sedang penuh semangat dan passions untuk menjadi entrepreneur membangun sebuah usaha atau startup, ingatlah risiko selalu ada. Tak peduli apakah Anda karyawan/profesional atau wiraswasta.

Bulan Juni 2014, Halle Institute for Economic Research  mempublikasikan penelitian dan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakter antara wirausahawan sukses, profesional dan karyawan biasa dalam hal sikap mereka terhadap risiko. Mereka pasti bukan orang yang menolak risiko. Karena kalau Anda menolak risiko, Anda pasti gagal. Mereka semua menerima risiko sebagai bagian hidup. Tinggal bagaimana menjadi smart, cerdas mengolah risiko.

Ilmu management sudah lama memasukkan “risiko” sebagai cabang ilmu tersendiri, yaitu risk management, atau management risiko. Seperti halnya, uang (finance), manusia (human resource), pemasaran (marketing) ada ilmu dan teorinya, demikianlah resiko (risk) adalah hal yang ada dan perlu dikelola/manage. Dalam istilah saya (yang mungkin berlebihan) risiko adalah hal yang harus dipeluk ketika Anda menjalankan bisnis. Risiko itu ibarat  “anak sendiri” yang perlu dijaga agar tidak tumbuh menjadi anak yang liar dan brutal. Artinya Anda perlu menyediakan sumber daya baik waktu maupun biaya untuk mengelola risiko.  Bagaimana caranya?

1. Sediakan Bab Khusus tentang Risiko dalam Rencana Usaha
Selain berbicara tentang produk, keuangan, marketing, organisasi, Anda perlu membuat daftar resiko yang mungkin muncul.  Risiko bisa datang dari diri Anda, partner, karyawan, pasar. Pendek kata kita perlu cermati risiko dari semua aspek, baik eksternal maupun internal. Tidak semua risiko mempunyai bobot yang sama. Anda perlu mempelajari dan memperhitungkan bobot tiap risiko itu dan belajar bagaimana mensiasati, mencegah dan menanggulangi risiko.

Ketika asset Anda adalah rumah atau toko, risiko yang mungkin muncul adalah kebakaran atau pencurian. Kalau Anda sudah memperhitungkan risiko itu, Anda perlu memikirkan memanfaatkan asuransi kebakaran dan investasi pada sistem pengamanan rumah.  Kalau Anda menjual makanan, mungkin Anda menghadapi risiko bahan makanan yang cepat busuk atau kadang langka di pasaran. Sebuah mesin pendingan berkualitas serta jaringan supplier mungkin bisa menjadi salah satu cara mengurangi risiko. Dan sebagainya.

2. Siapkan Plan B, C, D E, dst
Anda mungkin pernah mendengar kata-kata bijak ini “Jangan berjanji saat hati senang, jangan membalas saat Anda marah”.  Kata-kata bijak itu mungkin cocok diterapkan dalam pengelolaan risiko. Saat suasana hati sedang penuh semangat, atau sedang kepepet, kita mungkin cenderung berlebihan dalam melihat peluang bisnis/usaha. Dan dalam suasana hati seperti itu, senang atau kepepet, mungkin Anda cenderung akan terburu-buru melakukan eksekusi.

Nasehat saya, ambillah waktu untuk menimbang dan menghitung dengan cermat prospek usaha Anda, langkah-langkah apa yang perlu dilakukan, berapa peluang keberhasilan dan kegagalan, berapa lama waktu dibutuhkan untuk mencapai hasil. Itulah beberapa list pertanyaan untuk sampai pada perhitungan yang objektif.

Selanjutnya siapkanlah rencana-rencana cadangan, Plan B, C, D, E dst bila sewaktu-waktu terjadi kegagalan dalam rencana-rencana Anda. Kalau semua itu sudah Anda lakukan sejak awal, Anda tak perlu lagi panik menghadapi situasi yang berubah, yang tidak sesuai dengan rencana Anda.

3. Fokus dan Kejar Peluang – Peluang dan Lampaui Keterbatasan Sumberdaya Anda
Risiko terbesar bisnis adalah kegagalan. Kalau Anda cermati lebih teliti, kisah para pengusaha sukses diliputi banyak kegagalan di samping keberhasilan yang mereka raih. Mereka sudah berkali-kali terantuk risiko bisnis terbesar, yakni gagal. Hukum perjuangan berlaku dalam hal ini. Yaitu, jumlah pemenang lebih sedikit daripada jumlah peserta pertandingan. Dari pengalaman saya, ada tiga ketrampilan positif yang harus dimiliki entrepreneur untuk memenangkan pertandingan dan mengatasi kegagalan.

Pertama fokus dan kejar. Wirausaha mungkin seorang yang berpandangan sempit. Dalam arti tentu benar adanya. Ia berfokus pada bidang yang telah dipilihnya dan tidak mudah menyerah pada situasi yang dihadapi. Dia sudah memperhitungkan semua risiko dan mengelolanya dengan baik.

Kedua, peluang/opportunities. Dalam menjalankan usahanya mungkin seorang entrepreneurs sejati melihat 4 peluang ini.  a) buat produk baru, b) buat bisnis model yang baru c) menciptakan produk murah d) menciptakan pasar yang baru.  Empat peluang ini bisa saja dikombinasikan satu dengan yang lainnya. Anda juga perlu memperhatikan bahwa tidak semua peluang cocok untuk semua produk atau organisasi. Tidak  semua upaya peningkatan profit adalah hal baru, misalnya meningkatkan skala usaha dengan menambah representative, atau menaikkan harga. Hal itu bisa saja dilakukan, tetapi itu tidak termasuk kategori entrepreneural. Bahasa gaulnya: “nenek gue juga bisa”.

Beyond Resources Controlled, lampaui sumberdaya yang Anda punya. Wirausaha, startups selalu terkait dengan usaha/bisnis baru. Pada tahap awal pertumbuhan, mungkin seorang entrepreneur bisa menghidupi usahanya cukup dengan menginvestasikan waktunya, tenaganya dan modalnya sendiri. Tetapi sejalan perkembangan usaha, empat risiko ini akan muncul. Pertama, demand risk. Risiko permintaan yaitu resiko yang muncul karena tingkat permintaan customer yang tinggi terhadap produk/jasa Anda. Sementara skala usaha Anda tidak mampu menangani semua permintaan itu. Kedua, technology risk. Risiko teknologi, kebutuhan terobosan teknologi untuk menangani proses produksi atau pemasaran. Ketiga, execution risk. Risiko eksekusi yaitu kemampuan entrepreneur untuk merekrut karyawan dan partner agar rencana usaha dapat terlaksana. Keempat, Financing Risk. Risiko keuangan yaitu ketersediaan dana sesuai dengan jadwal dan rencana.

Semakin maju tahapan startups semakin banyak risiko dihadapi untuk menjaga keseimbangan usaha. Credit foto http://www.paxsonwoelber.com/

Banyak entrepreneur berhenti pada tahap awal usaha atau saat skala usaha masih dapat ditangani dengan mengandalkan waktu, tenaga dan keuangan internal (bootstrap). Untuk maju ke tahap berikutnya, wirausaha perlu piawai dalam menjaga keseimbangan menghadapi 4 resiko tadi.

Pelajaran tentang  cara mengatasi resiko-resiko itu sudah masuk dalam kurikulum wirausaha tingkat lanjut. Di kesempatan berikut saya akan mencoba menguraikan strategi dan taktik mengatasi ke-empat risiko tadi.

Maspieto CTP

 

 

#5. Startups, Bagaimana Mengubah Visi menjadi Fakta?

Tulisan berikut ini merupakan sambungan langsung dari artikel no 4.

Visi Startups

Mengubah visi usaha menjadi fakta bisnis bukanlah sulap. Ada kerja keras di baliknya.

Mengubah visi usaha menjadi fakta bisnis bukanlah sulap bukanlah sihir. Ada serangkaian proses yaitu menguji dugaan-dugaan untuk menemukan validitasnya.

Sebuah bisnis biasanya berangkat dari  visi pendiri tentang produk atau layanan baru. Produk/layanan baru itu diyakini akan memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan pelanggan. Sebut saja, visi tentang obat jerawat yang dapat menghilangkan jerawat dalam waktu sekejap. Atau, visi tentang sebuah aplikasi canggih yang membuat mobil dapat berjalan tanpa supir.

Banyak visi startups tinggal sebagai dokumen dan ide gemilang tapi gagal menjadi kenyataan. Mengapa?

Visi  kawan-kawan arsitek, (baca kembali artikel ke-4) tentang  rumah hunian sejuk dengan teknologi Radiant Cooling pengganti AC, sampai sejauh ini masih berisi dugaan dugaan. Mereka menduga bahwa produk ini akan memecahkan masalah banyak orang. Yaitu dalam hal hemat energi dan pengurangan pemanasan global. Logikanya demikian: produk baru itu akan menjawab masalah,  maka pastilah akan diterima pasar. Belum tentu. Apa yang dimaksud pasar? Siapa pelanggan potensial yang akan menerima? Apakah mereka mempunyai preferensi tambahan seperti kepraktisan, after sales service, kemasan? Bagaiman delivery produk baru itu agar sampai kepada pelanggan?

Startups yang membangun model bisnis hanya berdasarkan visi dan dugaan-dugaan, sangat beresiko gagal di tengah jalan. Entah karena kehabisan waktu dan biaya yang tidak perlu. Entah karena pelanggan/pasar mempunyai preferensi yang berbeda. Bahkan mungkin karena perkembangan teknologi yang terjadi saat launcing telah lebih maju daripada saat prototipe dibuat.

Banyak startup memulai usaha mereka seolah-olah mereka adalah perusahaan besar yang sudah matang. Mereka mengawali usahanya dengan urusan organisasi. Mereka berpikir seolah-olah semua masalah akan selesai dengan sebuah struktur usaha yang baku, rencana kerja yang statis dengan jadwal eksekusi yang ketat.

Tak ada yang pasti dalam kerja sebuah startup. Kecuali bahwa rekening di bank akan terus berkurang tanpa pemasukan. Karena itu rencana kerja yang statis disertai jadwal eksekusi yang ketat bukan cara  yang tepat dalam awal pembangunan startups.

Masalah utama yang harus diselesaikan sedari awal adalah memastikan bahwa visi dan dugaan-dugaan pendiri dapat diubah menjadi fakta-fakta.

Menguji Dugaan
Kembali ke ide rumah sejuk tanpa AC, para arsitek penggagas  sadar; harus didapat kepastian bahwa pelanggan potensial akan menerima produk itu sedari awal. Dan bila pelanggan tidak atau belum menerima, mereka perlu tahu alasannya sehingga dapat melakukan perubahan-perubahaan atas produk mereka. Bagaimana caranya?

Jadi inilah beberapa rencana para penggagas rumah sejuk tanpa AC untuk mengubah dugaan menjadi fakta:

1. Setelah prototype rumah jadi, mereka akan membawa contoh itu ke berbagai forum yang mepresentasikan pelanggan potensial. Mereka dapat berarti para developer, pemilik lahan, kontraktor atau konsumen/pembeli rumah. Reaksi atau kritik dari forum akan menjadi catatan penting untuk melakukan perubahan/pengembangan. Pengembangan produk dapat berarti perubahan menyeluruh atau terbatas.

2. Selain itu dibutuhkan waktu untuk menilai daya tahan serta persoalan teknis yang muncul dengan melakukan monitoring atas produk tersebut.

3. Perubahan-perubahan dilakukan sesuai dengan catatan/kritik. Hasil dari perubahan itu disampaikan lagi kepada forum. Demikianlah serangkain percobaan dilakukan dan diulang untuk mendapat kepastian bahwa visi pendiri dapat diubah menjadi fakta.

Rangkain percobaan itu sendiri baru menjawab salah satu persoalan, yaitu memastikan produk sesuai harapan dan dapat diterima oleh konsumen. Ada tahap dan rencana lain yang akan dilakukan seperti mengetahui ukuran pasar, dan target pasar. Menentukan saluran distribusi agar produk dapat sampai kepada pelanggan. Dan sebagainya.

Contoh startups rumah sejuk tanpa AC adalah contoh tentang produk fisik, sesuatu yang bentuknya kelihatan. Apakah produk startupsmu? Bagaimana dengan produk/jasa online? Dalam tulisan-tulisan berikut semoga saya dapat memberi contoh selain produk fisik. Yaitu contoh tahapan paling awal dalam mengubah visi menjadi fakta.

Inti tulisan artikel 5 ini adalah icip-icip ilmu yang disebut customer development. Sebuah tahap awal sebelum sebuah strategi marketing dapat dijalankan. Kalau tertarik, Anda perlu melakukan pendalaman sendiri untuk mengetahui tahapan customer development. Atau kita berdiskusi dalam forum berbeda.

Pesan tulisan ini adalah: mengetahui apakah produk/jasa Anda akan diterima pasar harus dilakukan sedari awal. Lakukan perubahan-perubahaan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dalam tahap ini, perubahan dapat setiap hari dilakukan tergantung jenis produk/layanan. Perubahan dapat hanya perubahan fitur atau bahkan lebih dari itu. Perubahan esensi.

Maspieto CPT

#4. Ide Bisnis untuk Startup: “Profit Seeking Entity atau Problem Solver”?

“Kami ingin membawa Suvarnabhumi Airport Bangkok ke dalam rumah-rumah kami”

Setengah hari tadi (20/07/2015) saya berdiskusi intensif dengan beberapa arsitek tentang startup mereka, di Citos, Cilandak. Tantangan yang mau dijawab dengan startup mereka patut mendapat acungan jempol.

Courtesy of buzzquotes.com

Bangkok Airport. Courtesy of buzzquotes.com

Saya ingin mensharekan diskusi ini karena dua alasan. Alasan pertama, meski masih sangat prematur gagasan awal mereka patut dibawa ke ruang publik untuk mendapatkan tambahan kritik/masukan, tambahan kawan, tambahan resource dan mungkin tambahan komunitas yang mempunyai minat yang sama.

Banyak orang takut menyebarkan ide businessnya ke ruang publik. Kekawatirannya adalah ini: apakah menyebarkan ide business tidak merugikan, karena bisa saja ide itu diambil oleh kompetitor? Dan sebelum kita sanggup memasuki pasar, bisa-bisa pesaing kita sudah melakukan penetrasi lebih dahulu.

Alasan kedua, topik diskusi kami hari ini cukup bernilai dalam membantu sesama startup yaitu tentang market/pasar, validasi customer dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tajam dari calon investor atau venture capitalist tentang pasar yang dimasuki startups adalah pertanyaan inti dan utama yang harus dijawab pemilik startups dalam proses pitching. Kegagalan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, berarti menutup kemungkinan mendapat sejumlah dana untuk melakukan ekspansi usaha.

Radiant Cooling
Sekarang saya mulai dengan alasan pertama: berbagi Ide bisnis. Anda yang pernah pergi ke Bangkok melalui Suvarnabhumi Airport mungkin tidak menyadari hal berikut. Terminal Airport seluas hampir 150.000m2 dengan ketinggian langit-langit mencapai 13,5 m, terasa sejuk walau tidak menggunakan AC. Suhu di dalam ruang terasa sejuk karena suhu udara dijaga berada di kisaran 22-24C, dengan kelembaban 44-55% RH (relative humidity).

Teknologi yang dipakai sebagai ganti AC konvensional disebut Radiant Cooling. Penjelasan detail dan teknis tentang bagaimana kerja teknologi ini tidak dapat saya berikan. Ada ahlinya yang dapat menjelaskannya leih detail. Anda juga dapat googling bila ingin tahu lebih banyak. Silakan para pembaca berbagi, kalau tahu tentang teknologi ini.

Hanya prinsip kerjanya saja mampu saya sharekan. Proses pendinginan di Airport ini dilakukan terhadap lantai terminal pada suhu 19C. Proses pendinginan di Airport dilakukan melalui pipa-pipa air yang ditanam di bawah lantai. Air didinginkan dengan beberapa chiller raksasa, yang kemudian dialirkan ke dalam pipa-pipa di bawah lantai. Itu sebabnya, kadang teknologi ini disebut sebagai radiant floor cooling. Sistem ini berbeda dengan AC konvensional yang melakukan pendinginan ruang dengan menghembuskan udara yang didinginkan ke dalam ruangan. Dengan teknologi ini, secara teoritis energi listrik dapat dihemat sampai 60%.

Sejauh ini gedung yang telah menerapkan teknologi ini di Indonesia hanya 2 yaitu Kedutaaan besar Austria di Jakarta dan ATMI di Cikarang Jawa Barat. Memang teknologi radiant cooling sejauh ini hanya diterapkan pada high risk building seperti mall, perkantoran, apartemen dan bandara. Belum pernah saya dapati penggunaan teknologi ini pada rumah-rumah tinggal. Mungkin karena kendala biaya yang tinggi.

Tantangan yang ada di hadapan kawan-kawan diskusi saya hari ini tentu sangat menarik. Apakah mungkin menggunakan teknologi radiant cooling (yang ramah lingkungan dan terbukti efisien dalam pemanfaat energy listrik) ke dalam rumah-rumah sederhana, dengan luas 36m2 atau 45m2? Para arsitek dan tim teknis ini cukup optimis bahwa tantangan ini dapat dijawab dan diselesaikan. Mereka sekarang akan memasuki tahap uji coba, untuk memastikan bahwa desain yang mereka buat dapat bekerja.

Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli

Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli

Beyond Profit
Setelah sekilas tentang teknologi radiant cooling, sekarang, saya ajak pembaca kembali mendiskusikan alasan pertama yang saya sampaikan di atas. Apakah sharing ide bisnis yang saya lakukan tidak membahayakan prospek bisnis kawan-kawan Arsitek dan sponsor mereka? Tentu saya perlu lampu hijau dari mereka untuk sharing ini. Menurut saya, mensharingkan atau tidak mensharingkan ide bisnis itu perkara kepercayaan, perkara pilihan akan prinsip hidup/bisnis.

Saya percaya bisnis masa kini melangkah “beyond profit“. Bisnis visioner melampaui paradigma berpikir pedagang mobil bekas: mencari mobil bekas dengan harga serendah-rendahnya, memolesnya, dan kemudian menjualnya dengan harga setinggi-tingginya. Bisnis visioner, mencoba mencari solusi atas persoalan manusia, lingkungan dan keberlangsungan planet kita ini. Not (only) compete to be the best IN the world, but collaborate to be the best FOR the world.

Keberhasilan tidak lagi sekedar diukur dari revenue, profit dan ROI, namun dan terutama values, impact dan culture. Apple tidak punya CSR karena mereka percaya berbuat baik tidak harus menunggu profit, namun didasari oleh manifestasi nilai-nilai. Google dan Zappos mampu menghimpun talenta-talenta paling relevan bukan berdasarkan tawaran gaji tinggi, namun karena visi dan ajakan untuk turut mengubah dunia.

Dalam konteks beyond profit perusahaan menjelma dari profit seeker menjadi problem solving organization. Antar organisasi bukan lagi urusan kompetisi, namun kolaborasi dan kerjasama untuk misi bersama yang lebih universal. Perhatikan saja misalnya BCorporation yang berupaya menjadikan business sebagai solusi problem sosial.

Saya percaya, dengan mensharingkan ide besar yang sedang ditekuni oleh beberapa kawan arsitek, saya justru sedang membantu membukakan tangan untuk sebuah kolaborasi cerdas dan luas untuk membangun rumah kita yang peduli pada lingkungan hijau dan menjawab masalah pemanasan global. Ya, ini memang sebuah cita-cita besar yang perlu banyak oarng untuk terlibat. Siapa tahu tulisan saya ini menjadi pemacu lahirnya komunitas-komunitas lintas ilmu yang concern pada eco house design.

Lagi pula, masalah utama startups sesungguhnya bukan pada ada tidaknya ide. Ide-ide menarik dan gila bisa kita dapatkan di banyak ruang diskusi. Para komentator bisa punya lebih banyak ide daripada pelatih sepakbola. Apa istimewanya ide GoJek atau BerryKitchen? Banyak orang bisa membuat ide yang lebih gila dari itu. Persoalannya ada pada level eksekusi. Apakah startups mempunyai kompetensi inti (core competence) untuk melakukan eksekusi? Kawan-kawan saya dan sponsor mereka agaknya punya kapasitas memadai untuk mengolah gagasan mereka itu.

Bila demikian halnya, persoalan berlanjut ke alasan/pertanyaan ke-2? Bagaimana dengan pasar? Siapakah customernya? Apakah mereka pasti akan menerima produk baru ini? Bagaimana mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan?

Saya akan mencoba membahasnya dalam tulisan berikutnya,

Maspieto CTP

#3. Ngobrol dengan Milenial saat Halal bi Halal

Kali ini saya menulis tentang milenial dan startups.

Salah satu hal yang menyenangkan saat silaturahmi, halal bi halal Idul Fitri adalah bertemu dengan para keponakan, generasi milenial.

Ngobrol dengan Desy dan Emir, generasi Milenial

Ngobrol dengan Desy dan Emir, generasi Milenial

Keponakan kebanyakan lahir antara tahun 1990 dan 2010. Menurut pembagian demografi sebagian keponakan masuk kategori generasi Y atau generasi milenial (lahir antara 1980-2000); dan sebagian keponakan masuk generasi Z (lahir setelah tahun 2000.

Kali ini saya akan fokuskan tulisan pada sebagian  mereka, yaitu  para milenials.

Di antara mereka, saya kemarin asyik ngobrol  lama dengan Desy dan Emir. Mereka ini dapat menjadi contoh relevan dari kaum milenial. Keduanya belum lama lulus dari perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dan begitu lulus mereka langsung bekerja di perusahaan multinasional. Lulus dan dapat pekerjaan adalah pencapaian yang dapat menenangkan hati orangtua mereka.

Apakah pencapaian sementara ini memuaskan hati Desy dan Emir? Tidak atau belum. Para milenial ini punya preferensi berbeda tentang pekerjaan dengan generasi sebelumnya yaitu generasi X. “Sukses” bagi generasi orangtua mereka belum tentu dianggap sebagai sukses bagi para milenial. Ada perbedaan cara pandang milenial dengan generasi X dalam banyak hal, gaya hidup, pekerjaan, pandangan akan teknologi, otoritas dan sebagainya.

Dalam hal pekerjaan misalnya, para milenial ini tumbuh melihat orang tua mereka bekerja siang dan malam melakukan pekerjaan korporasi yang sangat menekan. Hal ini menimbulkan pandangan tersendiri tentang pekerjaan dan perlunya keseimbangan antara kerja dan kehidupan.

Generasi X menganggap apa yang mereka kerjakan berkaitan dengan hidup. Sementara milenial melihat hidup laksana cafetaria. Mereka melihat generasi sebelumnya hidup untuk

Generation Y dalam kolase. courtecy of 1e3media.com

Generation Y dalam kolase. courtecy of 1e3media.com

bekerja, sedangkan milenial mau bekerja untuk hidup. Mereka tak suka kerja keras yang menghilangkan kesempatan untuk menikmati hidup.

Generasi X melihat perubahan teknologi sebagai sesuatu yang baru, yang mengubah kehidupan. Sementara Generasi Y tumbuh dengan teknologi. “Being connected” dan penguasaan teknologi adalah DNA mereka. Dilengkapi dengan teknologi terbaru dan gadget, seperti iPhone, laptop dan tablet akhir-akhir ini, Generasi Y online dan terhubung 24/7, 365 hari setahun. Terhadap teknologi sebagai barang baru, generasi X cenderung mencoba menikmatinya (enjoy IT), sebaliknya para milenial memanfaatkan teknologi sebagai sumber (utama) kehidupan (employ IT).

Generasi X punya DNA pemberontak terhadap otoritas yang mereka anggap mengukung kebebasan mereka. Sementara milenial menganggap otoritas itu soal pilihan. Artinya mereka akan cenderung meninggalkan otoritas yang tidak mereka sukai dan mengakui otoritas bila sesuai dengan visi mereka. Otoritas itu ibarat applikasi dalam smartphone mereka. Milenial dapat menginstall atau uninstall  “otoritas” pilihan mereka sesuai dengan preferensi.

Milenial ini dapat digambarkan sebagai orang yang ambisius dan sangat percaya diri. Generasi sebelumnya mungkin menganggap mereka arogan. Milenial punya ekspetasi yang tinggi dan cenderung mencari tantangan. Bertanya untuk sesuatu yang mereka anggap tak jelas adalah hal yang biasa untuk milenial.

Begitulah stereotype para milenial. Jejak-jejak stereotype  itu saya temukan lagi ketika ngobrol santai dengan Desy dan Emir. Kendati mereka sudah bekerja di perusahaan multinasional, masih ada ambisi dan ekspetasi besar yang rasanya belum tertampung dalam situasi sekarang. Desy masih berharap bekerja di sebuah perusahaan yang memberi peluang untuk berkreasi, tidak terkukung pada job description yang terinci tapi membelenggu. Emir masih menekuni desain startup selepas pekerjaan kantornya. Dia masih mengimpikan mempunyai usaha sendiri dengan startups yang didesain bersama beberapa temannya.

Nah, untuk Anda yang juga sedang menekuni startups, perhatian pada milenial sebagai  tenaga kerja dan pasar potensial perlu diberikan lebih. Mereka bisa menjadi bagian tim kerja sehingga suasana kerja, desain ruang kerja, hubungan antara atasan dan bawahan, budaya perusahaan, mau tak mau harus menyesuaikan dengan karakteristik milenial. Dalam beberapa tahun ke depan milenial akan menjadi kekuatan utama semua organisasi.

Milenial juga menjadi pasar potensial. Dalam lima tahun mendatang, para milenial adalah angkatan kerja produktif, mempunyai penghasilan yang cukup dan shopping menjadi gaya hidup mereka. Dalam dekade itu (2020-2030) jumlah milenial produktif lebih banyak dari pada angkatan non produktif, manula dan anak-anak. Perbandingannya 56:44. Ahli demografi menyebut situasi ini sebagai bonus demografi, atau deviden demografis.

Dalam artikel ke-2 kemarin saya menulis tentang masalah utama dari startups yaitu customer development. Dalam artikel ke tiga ini, saya  menggaris bawahi hal berikut. Saat Anda berpikir tentang customer/pelanggan/pasar jadikanlah para milenials dan bonus demografi sebagai salah satu pertimbangan penting. Mereka dan situasi demografis yang sebentar lagi terjadi, akan sangat menentukan situasi ekonomi. Dan karenanya berkaitan dengan customer, pelanggan dan pasar Anda.

Ada baiknya Anda pelajari lebih lanjut ciri-ciri milenials serta  bonus demografi  dan IMPLIKASInya dengan industri, produk dan jasa yang Anda tekuni.

Maspieto CTP

#2. Apa Masalah Utama Startups? Berrykitchen vs Petani Sayur

Berry Ktichen Screen-Shot-2015-07-13

Apakah masalah utama yang dihadapi startups?

Seorang teman penggerak pertanian di daerah pedalaman pernah bersharing. Sharingnya tentang kesulitan para petani sayuran di pedalaman. Tanah pertanian: subur. Iklimnya sangat bagus untuk aneka jenis tanaman. Air pun berlimpah.

Pendek kata, tak ada kesulitan berarti bagi para petani untuk menanam dan menghasilkan beragam jenis sayuran.

Persoalan yang sebenarnya di hadapi petani sayuran adalah transportasi dan pemasaran. Jalan yang menhubungkan desa dengan kota terdekat sangat buruk. Apa lagi di musim hujan. Berlumpur di kala hujan.  Dibutuhkan waktu satu hari untuk sampai ke pasar terdekat.

Anda mungkin berpikir  itu masalah klasik petani di pedalaman. Anda benar.

Masalah utama yang dihadapi startups esensinya sama dengan masalah para petani sayur tadi. Petani bermasalah dengan saluran distribusi (jalan yang rusak) dan pasar. Beda antar keduanya tentu ada. Petani bermasalah dengan satu-satunya saluran distribusi yang rusak, dan satu satunya pasar terdekat yang dapat terjangkau.

Sementara itu, masalah utama startups adalah beragam produk yang dimiliki para startups; dan untuk bermacam produk yang dimiliki itu tersedia begitu beragam saluran distribusi dan beragam pasar. Bahkan terbuka kemungkinan para pemilik startups menciptakan channel distribusi baru dan sekaligus menciptakan pasar yang baru. Umumnya startups mengalami kesulitian untuk membangun channel distribusinya dan mengetahui persis apa yang dibutuhkan oleh pelanggan mereka. Bahkan mereka tidak tahu, siapa pelanggan nyata (tak hanya potensial) dan dengan cara bagaimana menemukan/i mereka.

Berrykitchen.com adalah contoh startups Indonesia yang berhasil membuat terobosan atas dua masalah yang saya sebut di atas. Tidak ada produk yang sungguh-sungguh baru yang dimiliki startups ini. Berrykitchen adalah perusahaan catering online di Indonesia yang baru saja meraih pendanaan Seri A senilai US$ 1,25 juta (Rp 16,6 miliar) dari Sovereign’s Capital, dengan partisipasi dari East Ventures (Tempointeraktif 14/7) .

Startups ini mengkombinasikan layanan cepat antar. Mereka bekerjasama dengan pedagang makanan yang ikut menjual di web mereka lalu memberikan jasa catering / lunch box dengan dua competitive advantages yaitu 1) delivery  tanpa  harga minimum sekaligus 2) pesonalisasi. Artinya, dengan merangkul aneka pedagang makanan pelanggan memiliki ragam pilihan yang jauh lebih banyak dengan kombinasi sesuai selera. Jauh lebih banyak pilihan daripada yang disediakan oleh layanan delivery pesaingnya seperti MCDonald, PizzaHut atau Hoka-hoka Bento. Mereka punya lebih dari 2500 menu saat artikel ini ditulis!

Berrykitchen didirikan 2012, dan sekarang rata-rata mampu mengirim 1300box per hari. Dengan suntikan dana yang didapat berrykitchen akan melakukan ekspansi yang lebih agresif, mulai dari perekrutan sampai perluasan jangkauan layanan mereka.

Ide brilliant startup ini pasti tak datang dari langit. Di balik kesuksesan awal yang mereka raih ada kerjakeras dan percobaan berkali-kali sampai mereka menemukan pelanggan mereka dan memahami kebutuhan mereka. Usaha paling sulit membuat sebuah startups berhasil disebut customer development. Sebuah situasi penuh ketidakpastian, perubahan /penyesuaian produk yang mungkin setiap hari harus dilakukan, bekerja tujuh hari seminggu dalam jam-jam yang tidak nyaman.

Kalau Anda (hendak) memiliki startups dan sependapat dengan saya bahwa masalah utama Anda ada pada saluran distribusi dan pemasaran,  artikel-artikel saya mendatang akan memberi jawaban atas permasalahan Anda. Not just about marketing, it is all about customer development. Semoga.

Maspieto CTP

#1. Startups, apa itu?

working-in-a-startup-small

Banyak orang mengira bahwa startups adalah perusahaan kecil. Atau versi kecil dari perusahaan besar. Dengan pemahaman itu, orang yang berminat membangun startups mulai mendesain fungsi dalam usahanya serta membayangkan jobdescription dalam perusahaan yang mirip-mirip perusahaan yang sudah berjalan lama.

Startups bukan versi kecil dari perusahaan besar. Anda yang akan memulai startups sebaiknya berhenti dengan ilusi itu. Startups adalah bentuk usaha, tepatnya tahapan usaha, yang harus dikelola dengan cara yang berbeda dengan perusahaan besar atau perusahaan yang sudah jadi.

Boleh jadi, ketika memulai satu startup, Anda sudah siap dengan sebuah produk atau jasa yang akan dilempar ke pasar hari ini juga. Anda yakin bahwa produk Anda adalah produk baru yang bernilai tinggi karena membuat hidup banyak orang lebih mudah, lebih efisien, lebih murah dan lebih menyenangkan. Lebih-lebih lagi, karena produk/jasa Anda mengusung teknologi terbaru, keyakinan Anda akan success story dari startup Anda menjadi semakin besar.

Anda lupa bahwa 99,9999% dari launching perdana startup adalah cerita tentang kegagalan atau kekurangberhasilan. Dan mungkin Anda kecewa bahwa keyakin akan keberhasilan startups Anda masih jauh panggang dari api. Namun kegagalan pertama – dan kegagalan-kegagalan berikutnya – harus Anda alami. Dan dari kegagalan tersebut Anda mendapat masukan tentang startup Anda. Utamanya kelemahan-kelemahan serta harapan pasar tentang produk Anda. Perubahan harus dilakukan. Baik perubahan fitur maupun yang lebih substantif.

Coba-gagal – perbaiki, coba-gagal perbaiki, barangkali adalah siklus berulang yang harus dialami oleh startups manapun. Tetapi setiap siklus yang dilewati sertai perubahaan-perubahaan membuat jasa dan produk Anda semakin dekat dengan keinginan kustomer. Yang perlu Anda pastikan adalah Anda menangkap dengan benar keinginan dan kebutuhan pasar Anda. Dan sekali Anda menangkap dengan jitu apa yang diterima oleh pasar, startups Anda sudah berada di gerbang kesuksesan. Dan sebuah tahap baru harus Anda lewati, keluar dari startups menuju perusahaan yang akan bertumbuh dengan lebih stabil

Jadi apa itu startups? Startups adalah bentuk sementara dari sebuah usaha, saat Anda mempunyai ide tentang produk dan jasa yang mungkin diterima oleh pasar. Namun Anda harus menguji dan mengembangkan pasar/pelanggan yang dapat menerimanya dengan antusias.