#9 Mengapa 90% Startups Gagal di Tengah Jalan?

Di bulan Januari 2013, komunitas startups di Amerika Serikat menerima berita suram. Polisi mendapati Jody Sherman  meninggal bunuh diri di dalam mobilnya, sekitar 35 km di luar kota Las Vegas tempat ia dan Kerry istrinya tinggal. Jody Sherman adalah pendiri sekaligus CEO dari Ecomom, sebuah startups yang bergerak di bidang makanan sehat untuk bayi. Jody yang mempunyai keahlian dalam bidang IT adalah pribadi yang menarik, menyenangkan, murah hati dan mempunyai passion yang kuat dengan dunianya.

Jody Sherman, pendiri Ecomom, buduh diri pada Januari 2013. Startupnya ditutup 2 minggu kemudian.  Credit foto.

Jody Sherman, pendiri Ecomom, buduh diri pada Januari 2013. Startupnya ditutup 2 minggu kemudian. Credit foto.

Di awal pertumbuhannya Ecomom mampu mengumpulkan US$ 2 juta dari para investor di California dan  US $4 Juta dari investor dan VegasTechFund di Las Vegas  sebagai modal untuk memulai usahanya. Jumlah itu setara dengan Rp 78 milyar  cukup untuk mengawali usahanya.

Kelemahan Jody adalah ketidak mampuannya dalam membuat keputusan di bidang keuangan baik dalam kehidupan pribadi maupun usaha. Jody sangat royal pada dirinya, istrinya dan karyawan-karyawannya. Para karyawan mendapatkan gaji yang sangat tinggi. Ia membelanjakan US $75.000 untuk membeli Airstream Trailer yang dipakainya keliling negara bagian untuk membagikan makanan bagi anak-anak yang kelaparan.

Puncak kegagalannya terjadi ketika ia menjual barang di Ecomom dengan harga discount. Jody tidak mempunyai kemampuan membaca laporan keuangan dan tidak mengerti perbedaan margin dan keuntungan. Situasinya lebih dari buruk, karena semakin ia banyak menjual justru perusahaan akan semakin rugi. Laporan investigasi yang lengkap tentang kegagalan Jody Sherman dalam mengelola Ecomom dapat dibaca selengkapnya di sini.

Jody Sherman barangkali contoh yang ekstrem, terlalu ekstrem, tentang seorang founder startups. Dan semoga cukup satu contoh ini saja, ketika sebuah kegagalan diakhiri dengan bunuh diri.

Tetapi, berapa banyakkah sebenarnya startups yang mengalami kegagalan dan mati sebelum dia berkembang? Saya perlu mengatakan fakta keras ini: konon 9 dari 10 startups akan gagal. Startups yang sedang/akan kamu geluti sekarang mungkin akan gagal juga. Mungkin saja, startupmu belum gagal, tetapi belum berhasil. Atau diambang kegagalan? Sebuah dilema yang harus dihadapi  oleh setiap startups.

Dilema itu juga yang mungkin dihadapi oleh Damar Juniarto, pendiri AlineaTV, ketika pada 2 Agustus 2015  menulis artikel ini di blog pribadinya “2 Tahun AlineaTV: Terpaksa Mati atau Mempertahankan Mimpi?”

Dua puluh alasan utama
Saya tidak tahu persis, mengapa dilema seperti itu dihadapi AlineaTV. Tetapi saya yakin setiap situasi yang disharingkan selalu mengandung pelajaran berharga. Di tahun 2014, CB Insight merilis hasil penelitian post-mortem terhadap 101 startups yang gagal. Pertanyaan yang hendak dijawab dalam penelitian itu adalah: apakah sebab utama yang membuat sebuah startups gagal. Penelitian postmortem adalah penelitian yang dilakukan terhadap startups yang telah mati.

Hasil penelitian itu memperlihatkan bahwa ada 20 alasan utama yang menyebabkan sebuah startup gagal. Yang dihadapi oleh Ecomom, yakni besar pasak daripada tiang, menduduki alasan kedua saja dan dihadapi oleh 29% startups. Kelemahan dalam mengambil keputusan keuangan yang cerdas, pengeluaran yang bodoh adalah penyebab utamanya. Sedangkan ketidakmampuan dalam menyusun, atau setidaknya membaca laporan keuangan dapat di atasi sedari awal dengan melibatkan orang yang ahli dalam bidang keuangan.

why-startups-fail-top-reasons1 cbinsightsdotcom

Penyebab kegagalan yang paling banyak dihadapi oleh startup adalah masalah pasar. Kecilnya revenue menjadi indikasi kuat bahwa pasar tidak menerima produk atau jasa startups meskipun semua strategi marketing sudah dilakukan.

Tetang sebab pertama kegagalan ini ada beberapa hal yang mungkin terjadi. Pertama, Pasar memang tidak membutuhkan produk atau layanan startups. Sehebat apapun misi yang diusung oleh sebuah startups jawaban pasar cukup jelas: pasar tidak butuh.

Kemungkinan kedua adalah: Startups menyasar pasar yang berbeda dari desain produk atau sebaliknya. Ini seperti sebuah perusahaan mobil yang mendesai mobil angkutan pedesaan dan menawarkannya ke masyarakat perkotaan. Siapa mau mbeli?

Atau mungkin seperti membuat majalah untuk remaja tetapi gaya bahasa dan isinya bak jurnal ilmiah. Siapa mau membaca?

Banyak startups menghadapi masalah kegagalan pasar, karena sedari awal mereka tidak fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Siapa pasar mereka? Dimana mereka berada? Dengan cara apa mereka mendapatkan produk yang mereka tawarkan (channel)? Apa preferensi mereka? Apakah mereka memerlukan produk Anda? Seberapa banyak? Fitur-fitur apa yang mereka inginkan?

Misi dan Uang, mana yang lebih penting?
Banyak orang mengira bahwa tujuan dari sebuah bisnis adalah mendapatkan untung. Prinsip itu mungkin tepat untuk seorang pedagang atau saudagar. Tetapi kalau kamu mau membangun sebuah usaha yang dapat bertahan lama, melewati usia yang panjang, usaha itu harus dapat menarik banyak orang untuk terlibat, rekan, investor, karyawan, kontributor, pelanggan. Dan untuk dapat mengikat sebanyak-banyaknya orang, usaha itu haruslah mempunyai misi dan bertujuan mulia, beyond profit,  untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Perhatikanlah ada begitu banyak founder, CEO yang berhasil tidak hanya dalam menjalankan usahanya, tetapi juga memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat dan dunia. Apakah uang tidak penting? Bagi sebuah perusahaan/startups bermisi mulia, uang sangat penting. Ia ibarat oksigen, O2, yang diperlukan agar perusahaan dapat hidup. Tanpa O2, manusia mati. Tanpa uang perusahaan bangkrut. Tetapi tujuan hidup manusia bukanlah mencari oksigen, bukan?

Begitulah sebuah startups dan perusahaan masa kini berada, ada tujuan ada misi yang hendak dicapai. Tetapi oksigen dan kebutuhan hidup lainnya harus dicukupi secara seimbang. Dengan kata lain selain sebuah misi yang luhur, founder atau CEO sebuah startups harus memikirkan bagaimana pasar dapat menerima produk/layanan dan memberi kontribusi finansial yang berguna bagi keberlanjutan usaha.

Selain misi yang mulia, startups yang akan sukses harus cukup rendah hati mempelajari pasar dan pelanggan mereka, menyesuaikan diri dan menjawab kebutuhan pelanggan. Pada gilirannya, pelanggan akan memberikan kontribusi finansial. Dan itu semua dilakukana tanpa harus mengorbankan misi luhurnya.

Kamu hanya perlu sedikit cerdas untuk menerjemahkan prinsip ini: “masuk lewat pintu mereka, dan keluar lewat pintu yang kamu kehendaki” agar kontribusi finansial dan misi mulia dapat berjalan seiring sejalan. “Masuk lewat pintu mereka” berarti, produk dan jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pelanggan.  “Keluar dari pintu kita” artinya misi dan tujuan mulia perusahaan, lewat jalan yang agak berliku dapat tercapai.  Ini adalah sebuah prinsip pedagogis yang  bermanfaat untuk bisnis.

Maspieto – CTP.

#8. Dicari: Relawan Kreatif untuk Industri Kreatif

Industri Kreatif, yakni industri yang berbasis pada seni, kultural, dan desain sangatlah menjanjikan. Menyumbangkan lebih dari 7% dari PDB di tahun 2014, dengan nilai pasar setara Rp 700 trilyun, Triawan Munaf, ketua Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bahkan optimis bahwa dalam tahun ini nilai pasar  industri kreatif dapat tembus mencapai Rp 900 trilyun. Dalam krisis ekonomi yang tengah melanda dunia, termasuk Indonesia, idustri kreatif dapat menjadi salah satu solusi melewati masa krisis ini. Bagaimana caranya?

Komunitas Relawan Kreatif

Komunitas Relawan Kreatif

Dua kisah berikut ini barangkali dapat jadi inspirasi bagi tumbuhnya: relawan internet kreatif.

Dua Cerita
Beberapa minggu lalu saya mendapat dua cerita dari teman yang menggugah hati. Cerita pertama tentang seorang pelukis senior. Bisa dibilang maestro, dan sudah dikenal di dalam dan di luar negeri. Sedangkan, cerita ke-2 tentang seorang pencipta mainan edukasi.

Ini cerita pertama tentang pelukis senior. Sang maestro lukisan, bukannya orang yang berkekurangan. Lukisannya sudah dikenal di manca negara. Karyanya menjadi penghias gedung ternama dan di banyak galeri musium. Sampai sekarang pun ia masih terus berkarya dan mendidik. Masih terdapat satu cita-cita yang ingin diwujudkan, memberikan sumbangan berkelanjutan bagi kegiatan sosial di negeri ini. Misalnya, karya kesehatan, pembangunan rumah layak, modal usaha dan sebagainya. Dengan cara apa? Salah satu idenya adalah dengan menjual karya lukisnya dan hasilnya disumbangkan bagi tujuan-tujuan sosial.

Cerita kedua, tentang seorang pengrajin mainan anak, yang punya idealisme tinggi. Menurutnya, salah satu yang hilang dalam dunia pendidikan dasar dan menengah adalah pengenalan akan ilmu rekayasa. Maka diciptakanlah puluhan mainan, yang disusun untuk berbagai tingkat pendidikan. Tujuannya agar murid diperkenalkan pada ilmu rekayasa (engineering). Aneka prototype mainannya sudah siap di workshopnya yang sederhana.

KOMUNITAS RELAWAN KREATIF: Sebuah angan
Saya yakin masih ada banyak kisah-kisah sejenis yang lebih seru. Kisah tentang orang berhati emas yang ingin menyumbangkan keahlian dan ketrampilannya bagi dunia yang lebih baik. Persoalannya, orang-orang berhati emas itu tak begitu mengenal dunia internet, yang menjadi basis pertumbuhan industri kreatif. Dan akses terhadap komunitas-komunitas kreatif juga tak mereka dapat. Kalau toh ada, mereka tak punya ketrampilan dan biaya untuk memanfaatkan pasar online.

Komunitas Relawan Kreatif, Mungkinkah?

Komunitas Relawan Kreatif, Mungkinkah?

Mendapat cerita itu, terbayang dalam angan-angan saya begini. Seandainya saja ada beberapa insan kreatif di jagad desain visual, web desain, animasi, internet marketing, dan sebagainya yang mempunyai hati emas, dan mau membangun komunitas relawan industri kreatif. Alangkah makin dahsyatnya ekonomi kreatif kita.

Komunitas relawan kreatif yang saya bayangkan ini, akan bergerak di daerahnya masing-masing. Mereka mencari dan menemukan kekayaan-kekayaan kultural, seni di wilayah yang belum terjamah insan kreatif. Lalu hasil temuannya diberi sentuhan marketing, disharekan dalam jejaring dan kepada dunia. Alangkah dahsyatnya sumbangan relawan ini bagi bangsanya kalau itu bisa diwujudkan.

Momentum untuk Memberi
Angan-angan itu tinggalah anggan-anggan kalau tidak kita mulai. Saya ingin mulai, dengan mengajak siapa saja yang tergerak dan mempunyai ketrampilan di seputar desain dan internet untuk mulai membangun komunitas yang marilah kita sebut sebagai Komunitas Relawan Kreatif.  Inilah momentum yang tepat, ketika krisis datang, kita bergandengan tangan saling mendukung lewat apa yang kita bisa.

Momentum untuk memberi Courtecy carletan.ca

Momentum untuk memberi Courtecy carletan.ca

Tujuan Komunitas Relawan Kreatif  adalah menjadi jembatan antara pelaku kreatif yang belum kenal internet dengan pasar yang tercipta karena internet. Mereka ini disebut relawan karena tidak bekerja berdasarkan kontrak sebagai karyawan, tetapi dari kesediaan untuk berbagi.

Komunitas ini akan bekerja untuk orang-orang seperti maestro lukisan itu dan pencipta mainan edukasi. Dan banyak lagi orang baik seperti mereka, yang ada diberbagai tempat. Komunitas akan membantu dengan ketrampilan internetnya mulai dari memasarkan sampai mencari dana untuk kegiatan komunitas.

Saya mau mengulurkan ajakan ini dari tempat saya mengabdi, karena tempat ini mungkin dapat ikut memberi sumbangan berupa jejaring industri, tempat ngumpul dan internet.

Tempat saya mengabdikan diri (Techno Park di Cikarang, Jawa Barat) mempunyai visi yang mirip. Membangun wirausaha-wirausaha kreatif Indonesia. Cikarang Techno Park tidak mendapat dana dari APBN atau APBD tetapi dari inisiatif para pendiri, akademisi dan perusahaan di Cikarang. Jadi untuk mewujudkan visi mulia ini pun dana dicari melalui berbagai cara.

Lepas dari itu, dengan sedikit keleluasaan yang ada, mungkin saya dapat memberi sumbangan bagi Komunitas Relawan Kreatif ini, dengan menyediakan tempat, berbagi informasi dan jaringan. Dan sekali-sekali menyiapkan teh atau kopi. 🙂

Ayo, siapa yang tertarik dengan ide ini? Kamukah relawan kreatif berhati emas?  Punya ketrampilan kreatif yang mau disumbangkan? Kalau kamu tertarik, silakan kontak saya di email: maspieto[at]gmail.com. atau twitter @maspieto. Mari kita mulai. Semoga ajakan ini bersambut.

Maspieto CTP

#5. Startups, Bagaimana Mengubah Visi menjadi Fakta?

Tulisan berikut ini merupakan sambungan langsung dari artikel no 4.

Visi Startups

Mengubah visi usaha menjadi fakta bisnis bukanlah sulap. Ada kerja keras di baliknya.

Mengubah visi usaha menjadi fakta bisnis bukanlah sulap bukanlah sihir. Ada serangkaian proses yaitu menguji dugaan-dugaan untuk menemukan validitasnya.

Sebuah bisnis biasanya berangkat dari  visi pendiri tentang produk atau layanan baru. Produk/layanan baru itu diyakini akan memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan pelanggan. Sebut saja, visi tentang obat jerawat yang dapat menghilangkan jerawat dalam waktu sekejap. Atau, visi tentang sebuah aplikasi canggih yang membuat mobil dapat berjalan tanpa supir.

Banyak visi startups tinggal sebagai dokumen dan ide gemilang tapi gagal menjadi kenyataan. Mengapa?

Visi  kawan-kawan arsitek, (baca kembali artikel ke-4) tentang  rumah hunian sejuk dengan teknologi Radiant Cooling pengganti AC, sampai sejauh ini masih berisi dugaan dugaan. Mereka menduga bahwa produk ini akan memecahkan masalah banyak orang. Yaitu dalam hal hemat energi dan pengurangan pemanasan global. Logikanya demikian: produk baru itu akan menjawab masalah,  maka pastilah akan diterima pasar. Belum tentu. Apa yang dimaksud pasar? Siapa pelanggan potensial yang akan menerima? Apakah mereka mempunyai preferensi tambahan seperti kepraktisan, after sales service, kemasan? Bagaiman delivery produk baru itu agar sampai kepada pelanggan?

Startups yang membangun model bisnis hanya berdasarkan visi dan dugaan-dugaan, sangat beresiko gagal di tengah jalan. Entah karena kehabisan waktu dan biaya yang tidak perlu. Entah karena pelanggan/pasar mempunyai preferensi yang berbeda. Bahkan mungkin karena perkembangan teknologi yang terjadi saat launcing telah lebih maju daripada saat prototipe dibuat.

Banyak startup memulai usaha mereka seolah-olah mereka adalah perusahaan besar yang sudah matang. Mereka mengawali usahanya dengan urusan organisasi. Mereka berpikir seolah-olah semua masalah akan selesai dengan sebuah struktur usaha yang baku, rencana kerja yang statis dengan jadwal eksekusi yang ketat.

Tak ada yang pasti dalam kerja sebuah startup. Kecuali bahwa rekening di bank akan terus berkurang tanpa pemasukan. Karena itu rencana kerja yang statis disertai jadwal eksekusi yang ketat bukan cara  yang tepat dalam awal pembangunan startups.

Masalah utama yang harus diselesaikan sedari awal adalah memastikan bahwa visi dan dugaan-dugaan pendiri dapat diubah menjadi fakta-fakta.

Menguji Dugaan
Kembali ke ide rumah sejuk tanpa AC, para arsitek penggagas  sadar; harus didapat kepastian bahwa pelanggan potensial akan menerima produk itu sedari awal. Dan bila pelanggan tidak atau belum menerima, mereka perlu tahu alasannya sehingga dapat melakukan perubahan-perubahaan atas produk mereka. Bagaimana caranya?

Jadi inilah beberapa rencana para penggagas rumah sejuk tanpa AC untuk mengubah dugaan menjadi fakta:

1. Setelah prototype rumah jadi, mereka akan membawa contoh itu ke berbagai forum yang mepresentasikan pelanggan potensial. Mereka dapat berarti para developer, pemilik lahan, kontraktor atau konsumen/pembeli rumah. Reaksi atau kritik dari forum akan menjadi catatan penting untuk melakukan perubahan/pengembangan. Pengembangan produk dapat berarti perubahan menyeluruh atau terbatas.

2. Selain itu dibutuhkan waktu untuk menilai daya tahan serta persoalan teknis yang muncul dengan melakukan monitoring atas produk tersebut.

3. Perubahan-perubahan dilakukan sesuai dengan catatan/kritik. Hasil dari perubahan itu disampaikan lagi kepada forum. Demikianlah serangkain percobaan dilakukan dan diulang untuk mendapat kepastian bahwa visi pendiri dapat diubah menjadi fakta.

Rangkain percobaan itu sendiri baru menjawab salah satu persoalan, yaitu memastikan produk sesuai harapan dan dapat diterima oleh konsumen. Ada tahap dan rencana lain yang akan dilakukan seperti mengetahui ukuran pasar, dan target pasar. Menentukan saluran distribusi agar produk dapat sampai kepada pelanggan. Dan sebagainya.

Contoh startups rumah sejuk tanpa AC adalah contoh tentang produk fisik, sesuatu yang bentuknya kelihatan. Apakah produk startupsmu? Bagaimana dengan produk/jasa online? Dalam tulisan-tulisan berikut semoga saya dapat memberi contoh selain produk fisik. Yaitu contoh tahapan paling awal dalam mengubah visi menjadi fakta.

Inti tulisan artikel 5 ini adalah icip-icip ilmu yang disebut customer development. Sebuah tahap awal sebelum sebuah strategi marketing dapat dijalankan. Kalau tertarik, Anda perlu melakukan pendalaman sendiri untuk mengetahui tahapan customer development. Atau kita berdiskusi dalam forum berbeda.

Pesan tulisan ini adalah: mengetahui apakah produk/jasa Anda akan diterima pasar harus dilakukan sedari awal. Lakukan perubahan-perubahaan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dalam tahap ini, perubahan dapat setiap hari dilakukan tergantung jenis produk/layanan. Perubahan dapat hanya perubahan fitur atau bahkan lebih dari itu. Perubahan esensi.

Maspieto CPT

#3. Ngobrol dengan Milenial saat Halal bi Halal

Kali ini saya menulis tentang milenial dan startups.

Salah satu hal yang menyenangkan saat silaturahmi, halal bi halal Idul Fitri adalah bertemu dengan para keponakan, generasi milenial.

Ngobrol dengan Desy dan Emir, generasi Milenial

Ngobrol dengan Desy dan Emir, generasi Milenial

Keponakan kebanyakan lahir antara tahun 1990 dan 2010. Menurut pembagian demografi sebagian keponakan masuk kategori generasi Y atau generasi milenial (lahir antara 1980-2000); dan sebagian keponakan masuk generasi Z (lahir setelah tahun 2000.

Kali ini saya akan fokuskan tulisan pada sebagian  mereka, yaitu  para milenials.

Di antara mereka, saya kemarin asyik ngobrol  lama dengan Desy dan Emir. Mereka ini dapat menjadi contoh relevan dari kaum milenial. Keduanya belum lama lulus dari perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dan begitu lulus mereka langsung bekerja di perusahaan multinasional. Lulus dan dapat pekerjaan adalah pencapaian yang dapat menenangkan hati orangtua mereka.

Apakah pencapaian sementara ini memuaskan hati Desy dan Emir? Tidak atau belum. Para milenial ini punya preferensi berbeda tentang pekerjaan dengan generasi sebelumnya yaitu generasi X. “Sukses” bagi generasi orangtua mereka belum tentu dianggap sebagai sukses bagi para milenial. Ada perbedaan cara pandang milenial dengan generasi X dalam banyak hal, gaya hidup, pekerjaan, pandangan akan teknologi, otoritas dan sebagainya.

Dalam hal pekerjaan misalnya, para milenial ini tumbuh melihat orang tua mereka bekerja siang dan malam melakukan pekerjaan korporasi yang sangat menekan. Hal ini menimbulkan pandangan tersendiri tentang pekerjaan dan perlunya keseimbangan antara kerja dan kehidupan.

Generasi X menganggap apa yang mereka kerjakan berkaitan dengan hidup. Sementara milenial melihat hidup laksana cafetaria. Mereka melihat generasi sebelumnya hidup untuk

Generation Y dalam kolase. courtecy of 1e3media.com

Generation Y dalam kolase. courtecy of 1e3media.com

bekerja, sedangkan milenial mau bekerja untuk hidup. Mereka tak suka kerja keras yang menghilangkan kesempatan untuk menikmati hidup.

Generasi X melihat perubahan teknologi sebagai sesuatu yang baru, yang mengubah kehidupan. Sementara Generasi Y tumbuh dengan teknologi. “Being connected” dan penguasaan teknologi adalah DNA mereka. Dilengkapi dengan teknologi terbaru dan gadget, seperti iPhone, laptop dan tablet akhir-akhir ini, Generasi Y online dan terhubung 24/7, 365 hari setahun. Terhadap teknologi sebagai barang baru, generasi X cenderung mencoba menikmatinya (enjoy IT), sebaliknya para milenial memanfaatkan teknologi sebagai sumber (utama) kehidupan (employ IT).

Generasi X punya DNA pemberontak terhadap otoritas yang mereka anggap mengukung kebebasan mereka. Sementara milenial menganggap otoritas itu soal pilihan. Artinya mereka akan cenderung meninggalkan otoritas yang tidak mereka sukai dan mengakui otoritas bila sesuai dengan visi mereka. Otoritas itu ibarat applikasi dalam smartphone mereka. Milenial dapat menginstall atau uninstall  “otoritas” pilihan mereka sesuai dengan preferensi.

Milenial ini dapat digambarkan sebagai orang yang ambisius dan sangat percaya diri. Generasi sebelumnya mungkin menganggap mereka arogan. Milenial punya ekspetasi yang tinggi dan cenderung mencari tantangan. Bertanya untuk sesuatu yang mereka anggap tak jelas adalah hal yang biasa untuk milenial.

Begitulah stereotype para milenial. Jejak-jejak stereotype  itu saya temukan lagi ketika ngobrol santai dengan Desy dan Emir. Kendati mereka sudah bekerja di perusahaan multinasional, masih ada ambisi dan ekspetasi besar yang rasanya belum tertampung dalam situasi sekarang. Desy masih berharap bekerja di sebuah perusahaan yang memberi peluang untuk berkreasi, tidak terkukung pada job description yang terinci tapi membelenggu. Emir masih menekuni desain startup selepas pekerjaan kantornya. Dia masih mengimpikan mempunyai usaha sendiri dengan startups yang didesain bersama beberapa temannya.

Nah, untuk Anda yang juga sedang menekuni startups, perhatian pada milenial sebagai  tenaga kerja dan pasar potensial perlu diberikan lebih. Mereka bisa menjadi bagian tim kerja sehingga suasana kerja, desain ruang kerja, hubungan antara atasan dan bawahan, budaya perusahaan, mau tak mau harus menyesuaikan dengan karakteristik milenial. Dalam beberapa tahun ke depan milenial akan menjadi kekuatan utama semua organisasi.

Milenial juga menjadi pasar potensial. Dalam lima tahun mendatang, para milenial adalah angkatan kerja produktif, mempunyai penghasilan yang cukup dan shopping menjadi gaya hidup mereka. Dalam dekade itu (2020-2030) jumlah milenial produktif lebih banyak dari pada angkatan non produktif, manula dan anak-anak. Perbandingannya 56:44. Ahli demografi menyebut situasi ini sebagai bonus demografi, atau deviden demografis.

Dalam artikel ke-2 kemarin saya menulis tentang masalah utama dari startups yaitu customer development. Dalam artikel ke tiga ini, saya  menggaris bawahi hal berikut. Saat Anda berpikir tentang customer/pelanggan/pasar jadikanlah para milenials dan bonus demografi sebagai salah satu pertimbangan penting. Mereka dan situasi demografis yang sebentar lagi terjadi, akan sangat menentukan situasi ekonomi. Dan karenanya berkaitan dengan customer, pelanggan dan pasar Anda.

Ada baiknya Anda pelajari lebih lanjut ciri-ciri milenials serta  bonus demografi  dan IMPLIKASInya dengan industri, produk dan jasa yang Anda tekuni.

Maspieto CTP

#2. Apa Masalah Utama Startups? Berrykitchen vs Petani Sayur

Berry Ktichen Screen-Shot-2015-07-13

Apakah masalah utama yang dihadapi startups?

Seorang teman penggerak pertanian di daerah pedalaman pernah bersharing. Sharingnya tentang kesulitan para petani sayuran di pedalaman. Tanah pertanian: subur. Iklimnya sangat bagus untuk aneka jenis tanaman. Air pun berlimpah.

Pendek kata, tak ada kesulitan berarti bagi para petani untuk menanam dan menghasilkan beragam jenis sayuran.

Persoalan yang sebenarnya di hadapi petani sayuran adalah transportasi dan pemasaran. Jalan yang menhubungkan desa dengan kota terdekat sangat buruk. Apa lagi di musim hujan. Berlumpur di kala hujan.  Dibutuhkan waktu satu hari untuk sampai ke pasar terdekat.

Anda mungkin berpikir  itu masalah klasik petani di pedalaman. Anda benar.

Masalah utama yang dihadapi startups esensinya sama dengan masalah para petani sayur tadi. Petani bermasalah dengan saluran distribusi (jalan yang rusak) dan pasar. Beda antar keduanya tentu ada. Petani bermasalah dengan satu-satunya saluran distribusi yang rusak, dan satu satunya pasar terdekat yang dapat terjangkau.

Sementara itu, masalah utama startups adalah beragam produk yang dimiliki para startups; dan untuk bermacam produk yang dimiliki itu tersedia begitu beragam saluran distribusi dan beragam pasar. Bahkan terbuka kemungkinan para pemilik startups menciptakan channel distribusi baru dan sekaligus menciptakan pasar yang baru. Umumnya startups mengalami kesulitian untuk membangun channel distribusinya dan mengetahui persis apa yang dibutuhkan oleh pelanggan mereka. Bahkan mereka tidak tahu, siapa pelanggan nyata (tak hanya potensial) dan dengan cara bagaimana menemukan/i mereka.

Berrykitchen.com adalah contoh startups Indonesia yang berhasil membuat terobosan atas dua masalah yang saya sebut di atas. Tidak ada produk yang sungguh-sungguh baru yang dimiliki startups ini. Berrykitchen adalah perusahaan catering online di Indonesia yang baru saja meraih pendanaan Seri A senilai US$ 1,25 juta (Rp 16,6 miliar) dari Sovereign’s Capital, dengan partisipasi dari East Ventures (Tempointeraktif 14/7) .

Startups ini mengkombinasikan layanan cepat antar. Mereka bekerjasama dengan pedagang makanan yang ikut menjual di web mereka lalu memberikan jasa catering / lunch box dengan dua competitive advantages yaitu 1) delivery  tanpa  harga minimum sekaligus 2) pesonalisasi. Artinya, dengan merangkul aneka pedagang makanan pelanggan memiliki ragam pilihan yang jauh lebih banyak dengan kombinasi sesuai selera. Jauh lebih banyak pilihan daripada yang disediakan oleh layanan delivery pesaingnya seperti MCDonald, PizzaHut atau Hoka-hoka Bento. Mereka punya lebih dari 2500 menu saat artikel ini ditulis!

Berrykitchen didirikan 2012, dan sekarang rata-rata mampu mengirim 1300box per hari. Dengan suntikan dana yang didapat berrykitchen akan melakukan ekspansi yang lebih agresif, mulai dari perekrutan sampai perluasan jangkauan layanan mereka.

Ide brilliant startup ini pasti tak datang dari langit. Di balik kesuksesan awal yang mereka raih ada kerjakeras dan percobaan berkali-kali sampai mereka menemukan pelanggan mereka dan memahami kebutuhan mereka. Usaha paling sulit membuat sebuah startups berhasil disebut customer development. Sebuah situasi penuh ketidakpastian, perubahan /penyesuaian produk yang mungkin setiap hari harus dilakukan, bekerja tujuh hari seminggu dalam jam-jam yang tidak nyaman.

Kalau Anda (hendak) memiliki startups dan sependapat dengan saya bahwa masalah utama Anda ada pada saluran distribusi dan pemasaran,  artikel-artikel saya mendatang akan memberi jawaban atas permasalahan Anda. Not just about marketing, it is all about customer development. Semoga.

Maspieto CTP