#10 The Future of Work, Revolusi Industri Jilid 4

Di bulan maret 2015, Obama meluncurkan program yang disebut TechHire Initiative. Program ini merupakan inisiatif Gedung Putih mencermati perkembangan teknologi yang merambah semua jenis industri. Perkembangan yang sangat cepat ini  berimbas pada kurangnya tenaga kerja yang mempunyai kemampuan di bidang IT khususnya coding. Di tahun ini saja AS membutuhkan setengah juta tenaga kerja di bidang IT.

TechHire Initiative adalah program Gedung Putih senilai US $100 Juta (Rp 1.35T) untuk mengkoordinasikan upaya pemerintah federal, kota, perusahaan dan sekolah dalam melatih tenaga kerja agar mereka dapat mengisi ratusan ribu lowongan pekerjaan dengan ketrampilan IT. Lewat program itu pemerintah AS memberi bantuan kepada sekolah-sekolah coding seperti Galvanize, Flatiron School dan Hack Reactor. Sekolah-sekolah itu menawarkan program akselerasi keterampilan digital. Program ini terbuka bagi masyarakat umum agar mereka dapat melamar pekerjaan bergaji tinggi, yaitu  50% lebih tinggi dari pekerjaan lain pada level yang sama.

Itulah jenis pekerjaan yang dalam dekade sebelumnya tidak pernah kita kenal. Sebutlah misalnya: software development, network administration, dan cybersecurity.

The internet of Things, Credit foto

The internet of Things, Credit foto

Tren ini juga kelihatan dari jumlah kelulusan di sekolah-sekolah coding. Di tahun 2015, sekolah-sekolah coding itu akan meluluskan sekitar 16.000 siswa. Jumah yang meningkat lebih dari 2X lipat lulusan tahun lalu (6.740 siswa). Jumlah kelulusan sekolah coding di 2015 adalah  1/3  dari  jumlah lulusan ilmu komputer dari universitas Amerika. Konsentrasi terbesar dari sekolah cooding itu, sering disebut Boot Camp, di San Francisco (12 Boot Camp), diikuti oleh New York (9),dan Seattle (8).

Apa yang sebenarnya terjadi?
Kebutuhan yang sangat tinggi akan tenaga kerja di bidang teknologi menandakan satu hal ini: yaitu dekade Internet of Things. Kita sedang memasuki dekade baru yang mengubah seluruh aspek kehidupan kita, karena kehadiran IoT (the internet of things). Kehadiran IoT akan mengubah seluruh aspek kehidupan kita, mulai dari gaya hidup, budaya, cara kita berelasi, termasuk dalam cara kita bekerja. Kita memasuki masa digital-ecosystem. Semua sub-sistem kehidupan di planet ini akan terhubung secara digital. Setiap sudut rumah, toilet, dapur, ruang tidur garasi dan mobil menjadi serba digital.

Demikian juga halnya dengan dunia manufaktur dan semua jenis industri akan dipaksa untuk melakukan perubahan radikal karena perkembangan teknologi dan lebih khusus lagi pemanfaatan artificial intelligence, baik dalam bentuk robot maupun software/aplikasi. Sebuah era industri yang disebut the future of work sudah ada di hadapan mata. Era ini akan membuat sebuah pabrik atau industri akan ketinggalan jaman, kalah dalam persaingan atau mungkin bangkrut jika tidak melakukan inovasi. Ya, inovasi di semua aspek.

Jacon morgan menyebutkan ada lima innovasi yang harus dilakukan sebuah perusahaan yaitu, inovasi karyawan, inovasi pelanggan, inovasi supplier/partner, inovasi competitor, dan inovasi kebijakan publik. Inovasi akan terjadi di semua aspek usaha, tetapi dasar dari semua inovasi itu adalah satu hal: inovasi mindset. Apa yang harus berubah dalam mindset para leader/CEO dan shareholder?

Kata kunci dari semua inovasi teknologi/digital itu adalah, keterbukaan, pertukaran, dan kolaborasi. Ketiga hal itu didasari pada fakta bahwa di luar struktur organisasinya, ada orang yang lebih cerdas, lebih ahli. Mereka yang lebih cerdas itu mungkin ada dalam diri karyawan di bagian lain, di antara pelanggan, vendor, atau mungkin competitor. Sayangnya banyak CEO masih mengira bahwa menjaga rahasia perusahaan adalah hukum suci sebuah usaha. Mindset seperti itu adalah mindset usang di era ini.

Contoh yang langsung dari implementasi perubahan mindset itu dapat dirasa pada produk terbaru IBM yaitu Bluemix. Bluemix adalah sebuat open platform yang merupakan implementasi dari arsitektur open cloud, yang memungkinkan seseorang membuat applikasi, mengubah atau mengganti aplikasi seketika. Kecanggihan bluemix antara lain dari kemampuannya untuk di pakai lintas platform (bahasa pemograman), lintas service aplikasi, dan lintas cloud.

Dengan Bluemix, sekarang dimungkinkan membangun suatu ekosistem dan runtime, untuk beberapa perusahaan, dengan jenis layanan yang berbeda-beda; bersamaan dengan itu bersinergi dengan sebuah universitas riset atau komunitas tertentu bahkan dengan individu. Bluemix juga memungkinkan analisa data dengan tingkat kerumitan yang tinggi untuk menghasilkan sebuah keputusan yang tepat dan cepat.

Open Innovation

Manakah perusahaan yang akan survive dalam era “bluemix”? Mereka adalah perusahaan yang menerapkan open innovation, dengan memanfaatkan kecanggihan bluemix atau sejenisnya.  Open innovation, artinya innovasi yang terbuka bagi semua pemangku kepentingan Inovasi ini dilahirkan dalam sebuah ekosistem yang dibangun antara perusahaan, karyawan, pelanggan, partner, vendor, konsultan, universitas, dan pemerintah. Semakin sebuah ekosistem berjalan baik, semakin kuatlah lembaga-lembaga yang ada di dalamnya.

Sudah tiba masanya di ruang rapat  hadir pelanggan, konsultan, vendor dan karyawan. Mereka duduk bersama mencari solusi atas sebuah masalah.  Sebuah fenomena yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Sebuah kelas, sebuah co-workers space, atau sebuah rapat dalam perusahaan, mungkin seperti ini situasinya. Credit foto.

Perusahaan-perusahaan terkemuka dunia tanpa kecuali melakukan inovasi dan membangun ekosistem mereka. Lihatlah apa yang dilakukan Walmart, GE, Google, Facebook dan lain-lain.

Berbagai universitas, komunitas kreatif ambil bagian dalam perubahan ini. Demikian juga yang dilakukan pemerintah di berbagai belahan dunia.

Lihat misalnya Pemerintah Obama meluncurkan TechHire Initiative. Pemerintah Cina meluncurkan berbagai program dalam tahun 2015-2025 untuk mewujudkan Cina sebagai Negara Inovasi no 1 di Dunia.

Malaysia membangun Genovasi bekerjasama dengan Standford University, sebuah pusat pendidikan di Petaling. Konon Pemerintah Malaysia mewajibkan pegawai negeri dengan level tertentu yang mau naik jabatan untuk megikuti kelas di Genovasi. Programnya mereka sebut design thinking; sebutan lain untuk program pelatihan yang bertujuan mengubah mindset PNS memasuki era IoT.

Jejak-jejak terbangunnya aneka ekosistem itu sudah mulai kelihatan. Sebuah revolusi industri jilid 4 sedang terjadi. Mudah-mudahan Cikarang Techno Park dan segenap pemangku kepentingan ambil bagian dalam revolusi ini, “the future of work”, di Indonesia.

Maspieto CTP
Tulisan ini terinspirasi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan  Iboy. Thx bro

#8. Dicari: Relawan Kreatif untuk Industri Kreatif

Industri Kreatif, yakni industri yang berbasis pada seni, kultural, dan desain sangatlah menjanjikan. Menyumbangkan lebih dari 7% dari PDB di tahun 2014, dengan nilai pasar setara Rp 700 trilyun, Triawan Munaf, ketua Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bahkan optimis bahwa dalam tahun ini nilai pasar  industri kreatif dapat tembus mencapai Rp 900 trilyun. Dalam krisis ekonomi yang tengah melanda dunia, termasuk Indonesia, idustri kreatif dapat menjadi salah satu solusi melewati masa krisis ini. Bagaimana caranya?

Komunitas Relawan Kreatif

Komunitas Relawan Kreatif

Dua kisah berikut ini barangkali dapat jadi inspirasi bagi tumbuhnya: relawan internet kreatif.

Dua Cerita
Beberapa minggu lalu saya mendapat dua cerita dari teman yang menggugah hati. Cerita pertama tentang seorang pelukis senior. Bisa dibilang maestro, dan sudah dikenal di dalam dan di luar negeri. Sedangkan, cerita ke-2 tentang seorang pencipta mainan edukasi.

Ini cerita pertama tentang pelukis senior. Sang maestro lukisan, bukannya orang yang berkekurangan. Lukisannya sudah dikenal di manca negara. Karyanya menjadi penghias gedung ternama dan di banyak galeri musium. Sampai sekarang pun ia masih terus berkarya dan mendidik. Masih terdapat satu cita-cita yang ingin diwujudkan, memberikan sumbangan berkelanjutan bagi kegiatan sosial di negeri ini. Misalnya, karya kesehatan, pembangunan rumah layak, modal usaha dan sebagainya. Dengan cara apa? Salah satu idenya adalah dengan menjual karya lukisnya dan hasilnya disumbangkan bagi tujuan-tujuan sosial.

Cerita kedua, tentang seorang pengrajin mainan anak, yang punya idealisme tinggi. Menurutnya, salah satu yang hilang dalam dunia pendidikan dasar dan menengah adalah pengenalan akan ilmu rekayasa. Maka diciptakanlah puluhan mainan, yang disusun untuk berbagai tingkat pendidikan. Tujuannya agar murid diperkenalkan pada ilmu rekayasa (engineering). Aneka prototype mainannya sudah siap di workshopnya yang sederhana.

KOMUNITAS RELAWAN KREATIF: Sebuah angan
Saya yakin masih ada banyak kisah-kisah sejenis yang lebih seru. Kisah tentang orang berhati emas yang ingin menyumbangkan keahlian dan ketrampilannya bagi dunia yang lebih baik. Persoalannya, orang-orang berhati emas itu tak begitu mengenal dunia internet, yang menjadi basis pertumbuhan industri kreatif. Dan akses terhadap komunitas-komunitas kreatif juga tak mereka dapat. Kalau toh ada, mereka tak punya ketrampilan dan biaya untuk memanfaatkan pasar online.

Komunitas Relawan Kreatif, Mungkinkah?

Komunitas Relawan Kreatif, Mungkinkah?

Mendapat cerita itu, terbayang dalam angan-angan saya begini. Seandainya saja ada beberapa insan kreatif di jagad desain visual, web desain, animasi, internet marketing, dan sebagainya yang mempunyai hati emas, dan mau membangun komunitas relawan industri kreatif. Alangkah makin dahsyatnya ekonomi kreatif kita.

Komunitas relawan kreatif yang saya bayangkan ini, akan bergerak di daerahnya masing-masing. Mereka mencari dan menemukan kekayaan-kekayaan kultural, seni di wilayah yang belum terjamah insan kreatif. Lalu hasil temuannya diberi sentuhan marketing, disharekan dalam jejaring dan kepada dunia. Alangkah dahsyatnya sumbangan relawan ini bagi bangsanya kalau itu bisa diwujudkan.

Momentum untuk Memberi
Angan-angan itu tinggalah anggan-anggan kalau tidak kita mulai. Saya ingin mulai, dengan mengajak siapa saja yang tergerak dan mempunyai ketrampilan di seputar desain dan internet untuk mulai membangun komunitas yang marilah kita sebut sebagai Komunitas Relawan Kreatif.  Inilah momentum yang tepat, ketika krisis datang, kita bergandengan tangan saling mendukung lewat apa yang kita bisa.

Momentum untuk memberi Courtecy carletan.ca

Momentum untuk memberi Courtecy carletan.ca

Tujuan Komunitas Relawan Kreatif  adalah menjadi jembatan antara pelaku kreatif yang belum kenal internet dengan pasar yang tercipta karena internet. Mereka ini disebut relawan karena tidak bekerja berdasarkan kontrak sebagai karyawan, tetapi dari kesediaan untuk berbagi.

Komunitas ini akan bekerja untuk orang-orang seperti maestro lukisan itu dan pencipta mainan edukasi. Dan banyak lagi orang baik seperti mereka, yang ada diberbagai tempat. Komunitas akan membantu dengan ketrampilan internetnya mulai dari memasarkan sampai mencari dana untuk kegiatan komunitas.

Saya mau mengulurkan ajakan ini dari tempat saya mengabdi, karena tempat ini mungkin dapat ikut memberi sumbangan berupa jejaring industri, tempat ngumpul dan internet.

Tempat saya mengabdikan diri (Techno Park di Cikarang, Jawa Barat) mempunyai visi yang mirip. Membangun wirausaha-wirausaha kreatif Indonesia. Cikarang Techno Park tidak mendapat dana dari APBN atau APBD tetapi dari inisiatif para pendiri, akademisi dan perusahaan di Cikarang. Jadi untuk mewujudkan visi mulia ini pun dana dicari melalui berbagai cara.

Lepas dari itu, dengan sedikit keleluasaan yang ada, mungkin saya dapat memberi sumbangan bagi Komunitas Relawan Kreatif ini, dengan menyediakan tempat, berbagi informasi dan jaringan. Dan sekali-sekali menyiapkan teh atau kopi. 🙂

Ayo, siapa yang tertarik dengan ide ini? Kamukah relawan kreatif berhati emas?  Punya ketrampilan kreatif yang mau disumbangkan? Kalau kamu tertarik, silakan kontak saya di email: maspieto[at]gmail.com. atau twitter @maspieto. Mari kita mulai. Semoga ajakan ini bersambut.

Maspieto CTP

#6. Memilih Rekan Bisnis: Ini 5 Hal Yang Harus Diperhatikan

Hari ini saya membaca berita miris, menyedihkan hati. Seorang yang pernah saya kenal “X” ditangkap polisi terkait dengan bisnis yang dia jalani. Sebenarnya bukan karena usahanya, X ditangkap polisi. Tetapi karena perbuatan tak menyenangkan yang dilakukan terhadap teman kerjanya.

Menurut berita yang saya baca, X kecewa terhadap rekan usahanya. Kekecewaan diungkapkan dengan cara yang menyedihkan. Menyebarkan foto tak senonoh lewat akun2 FB palsu dan lewat email. Seolah2 foto itu disebarkan oleh rekan X sendiri.

Perilaku kekanak-kanakan berdimensi pidana itu membawa X ke sel tahanan.

Cerita pecah kongsi seperti itu sering sekali saya dengar. Sebabnya bisa macam-macam, karakter tak cocok, cheating/curang, sampai mental dan budaya kerja.

5 Hal Penting

Misalnya Anda ingin membangun usaha. Anda punya visi, cita-cita besar yang hendak diwujudkan dalam bisnis. Anda butuh orang lain untuk bersama mewujudkannya bukan? Kehadiran orang lain, entah sebagai investor, co-founder, atau karyawan adalah kebutuhan/keharusan untuk mengubah visi menjadi fakta.

Rekan bisnis adalah mereka yang mempunyai visi dan passion yang sama dengan Anda

Rekan bisnis adalah mereka yang mempunyai visi dan passion yang sama dengan Anda

Tetapi, sebelum Anda memutuskan untuk mencari rekan kerja, renungkan dulu pertanyaan ini: Coba tuliskan impianmu. Lalu jawablah pertanyaan berikut:

1. Apakah visi itu sebuah visi,  yang berguna bagi orang lain?
Anda akan lebih mudah mengajak orang lain untuk mengerjakan sesuatu yang mempunyai manfaat bagi banyak orang, daripada sekedar mencari untung.

2. Apakah Anda percaya bahwa visi usaha itu dapat terwujud? Berapa lama? Visi bukan fakta, belum menjadi fakta. Tanpa kepercayaan diri, Anda tak dapat meyakinkan orang lain. Keyakinan itu tentu bukan keyakinan buta, melainkan keyakinan yang punya kalkulasi diserta cara dan syarat untuk mewujudkannya.

3. Agar visi dapat terwujud, talenta/keahlian apa yang harus ada dalam tim Anda? Dengan mengetahui talenta dan ketrampilan yang dibutuhkan, lebih mudah bagi Anda untuk mencari rekan kerja sesuai kebutuhan bisnis.

4. Anda mempunyai passion kegairahan, semangat yang menyala-nyala, pantang mundur untuk mewujudkan impian itu? Dibalik semua kisah sukses penemuan-penemuan, dan bisnis ada semangat pantang mundur dan tak mudah menyerah. Ada passion, kegairahan. Kegairahan dan semangat dapat ditularkan. Kalau Anda sendiri tak menunjukkan gairah, bagaimana bisa membuat orang lain terlibat penuh gairah. Dengan mengetahui passion Anda, mudah juga bagi Anda untuk mengetahui atau menularkannya pada (calon) rekan Anda.

5. Terakhir, apakah Anda akan menjalankan usaha itu dengan cara yang jujur dan adil? Kalau Anda terbiasa berlaku curang dan tak adil, maka tinggal tunggu waktu bahwa rekan Anda akan melakukan hal yang sama pada Anda.

Yang Anda butuhkan adalah Believers

Nah kalau Anda sudah merasa oke dengan ke-5 pertanyaan itu, ajaklah (calon) rekan kerja Anda untuk berbicara tentang ke-5 hal itu: a) visi yang baik, b) keyakinan serta langkah mencapai visi itu, c) talenta d) passion, dan e) etika/karakter.

Ambil waktu yang cukup untuk membicarakannya, cek rekam jejaknya. Kalau Anda atau rekan Anda tak punya waktu untuk membicarakan hal itu, artinya Anda mengangap tak penting peran rekan kerja yang baik dalam mewujudkan bisnis Anda.

Ingatlah visi bisnis bukan fakta. Anda dan semua yang bekerja untuk mengubah visi itu menjadi fakta adalah orang yang percaya bahwa Anda semua dapat mewujudkan hal itu. Mereka itu kadang disebut believers.

Ya, dalam membangun startups yang kita butuhkan sebenarnya lebih dari pada rekan kerja. Mereka adalah believers, orang yang percaya pada impian bersama, mempunyai visi, keyakinan, passions dan cara mengerjakan bisnis sesuai dengan cita-cita Anda atau pendiri usaha. Kalau Anda bertemu dengan believers itu anugerah tak ternilai. Anda patut menjaganya.

Maspieto CTP

#4. Ide Bisnis untuk Startup: “Profit Seeking Entity atau Problem Solver”?

“Kami ingin membawa Suvarnabhumi Airport Bangkok ke dalam rumah-rumah kami”

Setengah hari tadi (20/07/2015) saya berdiskusi intensif dengan beberapa arsitek tentang startup mereka, di Citos, Cilandak. Tantangan yang mau dijawab dengan startup mereka patut mendapat acungan jempol.

Courtesy of buzzquotes.com

Bangkok Airport. Courtesy of buzzquotes.com

Saya ingin mensharekan diskusi ini karena dua alasan. Alasan pertama, meski masih sangat prematur gagasan awal mereka patut dibawa ke ruang publik untuk mendapatkan tambahan kritik/masukan, tambahan kawan, tambahan resource dan mungkin tambahan komunitas yang mempunyai minat yang sama.

Banyak orang takut menyebarkan ide businessnya ke ruang publik. Kekawatirannya adalah ini: apakah menyebarkan ide business tidak merugikan, karena bisa saja ide itu diambil oleh kompetitor? Dan sebelum kita sanggup memasuki pasar, bisa-bisa pesaing kita sudah melakukan penetrasi lebih dahulu.

Alasan kedua, topik diskusi kami hari ini cukup bernilai dalam membantu sesama startup yaitu tentang market/pasar, validasi customer dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tajam dari calon investor atau venture capitalist tentang pasar yang dimasuki startups adalah pertanyaan inti dan utama yang harus dijawab pemilik startups dalam proses pitching. Kegagalan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, berarti menutup kemungkinan mendapat sejumlah dana untuk melakukan ekspansi usaha.

Radiant Cooling
Sekarang saya mulai dengan alasan pertama: berbagi Ide bisnis. Anda yang pernah pergi ke Bangkok melalui Suvarnabhumi Airport mungkin tidak menyadari hal berikut. Terminal Airport seluas hampir 150.000m2 dengan ketinggian langit-langit mencapai 13,5 m, terasa sejuk walau tidak menggunakan AC. Suhu di dalam ruang terasa sejuk karena suhu udara dijaga berada di kisaran 22-24C, dengan kelembaban 44-55% RH (relative humidity).

Teknologi yang dipakai sebagai ganti AC konvensional disebut Radiant Cooling. Penjelasan detail dan teknis tentang bagaimana kerja teknologi ini tidak dapat saya berikan. Ada ahlinya yang dapat menjelaskannya leih detail. Anda juga dapat googling bila ingin tahu lebih banyak. Silakan para pembaca berbagi, kalau tahu tentang teknologi ini.

Hanya prinsip kerjanya saja mampu saya sharekan. Proses pendinginan di Airport ini dilakukan terhadap lantai terminal pada suhu 19C. Proses pendinginan di Airport dilakukan melalui pipa-pipa air yang ditanam di bawah lantai. Air didinginkan dengan beberapa chiller raksasa, yang kemudian dialirkan ke dalam pipa-pipa di bawah lantai. Itu sebabnya, kadang teknologi ini disebut sebagai radiant floor cooling. Sistem ini berbeda dengan AC konvensional yang melakukan pendinginan ruang dengan menghembuskan udara yang didinginkan ke dalam ruangan. Dengan teknologi ini, secara teoritis energi listrik dapat dihemat sampai 60%.

Sejauh ini gedung yang telah menerapkan teknologi ini di Indonesia hanya 2 yaitu Kedutaaan besar Austria di Jakarta dan ATMI di Cikarang Jawa Barat. Memang teknologi radiant cooling sejauh ini hanya diterapkan pada high risk building seperti mall, perkantoran, apartemen dan bandara. Belum pernah saya dapati penggunaan teknologi ini pada rumah-rumah tinggal. Mungkin karena kendala biaya yang tinggi.

Tantangan yang ada di hadapan kawan-kawan diskusi saya hari ini tentu sangat menarik. Apakah mungkin menggunakan teknologi radiant cooling (yang ramah lingkungan dan terbukti efisien dalam pemanfaat energy listrik) ke dalam rumah-rumah sederhana, dengan luas 36m2 atau 45m2? Para arsitek dan tim teknis ini cukup optimis bahwa tantangan ini dapat dijawab dan diselesaikan. Mereka sekarang akan memasuki tahap uji coba, untuk memastikan bahwa desain yang mereka buat dapat bekerja.

Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli

Bangkok Airport Foto by Fabio Achilli

Beyond Profit
Setelah sekilas tentang teknologi radiant cooling, sekarang, saya ajak pembaca kembali mendiskusikan alasan pertama yang saya sampaikan di atas. Apakah sharing ide bisnis yang saya lakukan tidak membahayakan prospek bisnis kawan-kawan Arsitek dan sponsor mereka? Tentu saya perlu lampu hijau dari mereka untuk sharing ini. Menurut saya, mensharingkan atau tidak mensharingkan ide bisnis itu perkara kepercayaan, perkara pilihan akan prinsip hidup/bisnis.

Saya percaya bisnis masa kini melangkah “beyond profit“. Bisnis visioner melampaui paradigma berpikir pedagang mobil bekas: mencari mobil bekas dengan harga serendah-rendahnya, memolesnya, dan kemudian menjualnya dengan harga setinggi-tingginya. Bisnis visioner, mencoba mencari solusi atas persoalan manusia, lingkungan dan keberlangsungan planet kita ini. Not (only) compete to be the best IN the world, but collaborate to be the best FOR the world.

Keberhasilan tidak lagi sekedar diukur dari revenue, profit dan ROI, namun dan terutama values, impact dan culture. Apple tidak punya CSR karena mereka percaya berbuat baik tidak harus menunggu profit, namun didasari oleh manifestasi nilai-nilai. Google dan Zappos mampu menghimpun talenta-talenta paling relevan bukan berdasarkan tawaran gaji tinggi, namun karena visi dan ajakan untuk turut mengubah dunia.

Dalam konteks beyond profit perusahaan menjelma dari profit seeker menjadi problem solving organization. Antar organisasi bukan lagi urusan kompetisi, namun kolaborasi dan kerjasama untuk misi bersama yang lebih universal. Perhatikan saja misalnya BCorporation yang berupaya menjadikan business sebagai solusi problem sosial.

Saya percaya, dengan mensharingkan ide besar yang sedang ditekuni oleh beberapa kawan arsitek, saya justru sedang membantu membukakan tangan untuk sebuah kolaborasi cerdas dan luas untuk membangun rumah kita yang peduli pada lingkungan hijau dan menjawab masalah pemanasan global. Ya, ini memang sebuah cita-cita besar yang perlu banyak oarng untuk terlibat. Siapa tahu tulisan saya ini menjadi pemacu lahirnya komunitas-komunitas lintas ilmu yang concern pada eco house design.

Lagi pula, masalah utama startups sesungguhnya bukan pada ada tidaknya ide. Ide-ide menarik dan gila bisa kita dapatkan di banyak ruang diskusi. Para komentator bisa punya lebih banyak ide daripada pelatih sepakbola. Apa istimewanya ide GoJek atau BerryKitchen? Banyak orang bisa membuat ide yang lebih gila dari itu. Persoalannya ada pada level eksekusi. Apakah startups mempunyai kompetensi inti (core competence) untuk melakukan eksekusi? Kawan-kawan saya dan sponsor mereka agaknya punya kapasitas memadai untuk mengolah gagasan mereka itu.

Bila demikian halnya, persoalan berlanjut ke alasan/pertanyaan ke-2? Bagaimana dengan pasar? Siapakah customernya? Apakah mereka pasti akan menerima produk baru ini? Bagaimana mendapatkan jawaban yang cukup meyakinkan?

Saya akan mencoba membahasnya dalam tulisan berikutnya,

Maspieto CTP